Ticker

6/recent/ticker-posts

“Sama Rapuhnya”, Lagu untuk Disabilitas, Namun Mewakili Semua Manusia

open.spotify.com

 

14 Desember 2020, saat saya baru saja buka Instagram, tiba-tiba muncul postingan baru dari Bondan Prakoso (melalui akun resminya @_bondanprakoso_). Postingan tersebut berisi sepotong Official Lyric Video dari lagu barunya. Waktu saya baca caption-nya, ternyata lagu tersebut dibuat untuk menyemangati para disabilitas dalam kegiatan pelatihan dan kompetisi TIK nasional secara daring. Karena penasaran, saya langsung menuju channel Youtube-nya bang Bondan untuk mencari video lengkapnya.

Ketika saya mendengarkannya―sambil baca liriknya―di tengah-tengah lagu saya hampir meneteskan air mata. Liriknya sangat mengena dalam nurani dan (menurut saya) sangat mewakili apa yang terjadi dalam setiap kehidupan manusia. Lagu tersebut dibuka dengan diksi yang merepresentasikan realita yang harus diterima oleh penyandang disabilitas.

“Semua ini nyata, tak semu bagiku. Kesendirian adalah udara.

Bukanlah pilihan bila kutertolak. Aku terima dengan hati yang terbuka.”

Potongan lirik di atas mencerminkan bahwa para disabilitas tak bisa memilih dalam keadaan bagaimana kala mereka lahir―hal tersebut juga berlaku bagi kita semua. Tak jarang, akibat kekurangan mereka, para disabilitas ditolak oleh lingkungan sekitarnya. Hal tersebut bukan mimpi buruk yang ada dalam tidur mereka, melainkan kenyataan yang benar-benar ada di depan mata kepala. Akibatnya, mau tak mau mereka mesti menerimanya.

Lalu, dalam reff-nya terdapat kalimat seperti ini.

“Ku akan terus bertahan, dan akan terus berjuang.

Hari ini, hari esok, dan selamanya.”

Menurut saya, kalimat termaktub bermakna bahwa para disabilitas harus menerima kenyataan, tapi bukan berarti mereka menyerah dengan keadaan. Lirik tersebut (menurut saya) berusaha untuk menyulut semangat para penyandang disabilitas untuk terus menapaki kehidupan yang (tak jarang) sangat kasar kepada mereka.

Selanjutnya, pasca reff yang pertama, terdengar potongan lirik berikut.

“Ku tak sempat takut untuk terjatuh.

Karena terpuruk adalah semestaku.”

Jujur, itu merupakan kalimat yang paling berkesan bagi saya. Dari situ saya melihat bahwa perjuangan penyandang disabilitas tak bisa dipandang sebelah mata. Mereka berjuang tanpa pernah peduli kegagalan. Sebab, kegagalan―juga semua yang meliputinya seperti celaan, diremehkan, bahkan harga diri yang diinjak-injak―adalah dunia mereka itu sendiri. Sering kali kita lupa atau bahkan tak peduli dengan hal tersebut, sehingga kita dengan mudahnya meremehkan orang-orang yang kurang sempurna secara fisik.

Bila direnungkan, sebenarnya potongan-potongan lirik “Sama Rapuhnya” tak hanya mewakili kehidupan para disabilitas. Ia juga menjadi cerminan apa yang dialami setiap manusia dalam hidupnya. Mulai dari yang pertama tentang realita ketidaksempurnaan manusia. Hal tersebut nyata dan setiap orang memiliki unsur kecacatan yang berbeda. Apabila kecacatan kita nampak oleh mata kepala, mungkin kita pun akan tertolak oleh lingkungan kita (seperti para penyandang disabilitas).

Berikutnya, reff yang berisi pasal perjuangan hidup yang tak akan pernah berhenti sebelum akhir hayat. Tentunya setiap orang sadar akan hal ini. Orang biasanya menganalogikan hal tersebut dengan mie instan yang harus dimasak dulu. Artinya, dalam menjalani kehidupan, segalanya butuh (proses) perjuangan agar kita bisa bertahana dan keluar sebagai pemenang. Masih banyak lagi potongan-potongan lirik yang mewakili kehidupan semua manusia.

Selain itu, dari lagu tersebut saya sadar bahwa saya (yang―alhamdulillah―memiliki kesempurnaan secara fisik) ternyata tak memiliki perbedaan dengan mereka yang fisiknya kurang sempurna. Lagu tersebut adalah lagu yang bagus, sebab ia tak hanya memberi semangat kepada para penyandang disabilitas, tapi juga mengajarkan kepada seluruh orang tentang semangat dalam menjalani kehidupan. Oleh sebab itu, bila teman-teman ada yang merasa terpuruk dengan keadaan, coba dengarkan lagu “Sama Rapuhnya”, siapa tahu dari situ bisa mendapatkan kembali semangat berjuang dalam menapaki kehidupan.

 

Post a Comment

0 Comments