![]() |
| Pexels.com |
Era sekarang merupakan sebuah era dimana media sosial menjadi keniscayaan. Siapa anak muda yang tak memilikinya? Jangankan anak muda, emak-emak aktivis rerasan tetangga juga punya media sosial lho. Transformasi ini tak bisa disangkal. Kita tidak hidup di tahun 2010, tahun dimana SMS menjadi penghubung khususnya bagi mereka yang saling memanggil dengan panggilan ‘ayah-bunda’. Kita hidup di tahun 2021 dimana kegiatan yang dilakukan di SMS telah teralihkan oleh media sosial―walau masih ada yang menggunakan SMS, tapi pengguna media sosial jelas lebih dominan.
Seperti slogan negara pada pita yang dicengkram oleh burung garuda, kondisi bangsa Indonesia benar-benar beragam. Bukan hanya beragam pada sisi ras, bahasa, suku, atau agama. Namun, juga beragam dalam sisi genre pengguna media sosial. Dengan melihat secara sekilas saja kita sudah bisa mengetahuinya. Ada orang yang memfungsikan media sosial untuk berjualan. Mereka mempromosikan produk mereka melalui status Whatsapp, postingan di Instagram atau Facebook, dan semisalnya. “Daripada harus capek-capek mendatangi setiap orang, tentu lebih mudah promosi lewat media sosial”, kurang lebih begitu paradigma mereka.
Ada juga orang yang menggunakan media sosial sebagai wadah untuk curhat. Mereka membuat story―biasanya di Whatsapp―untuk menunjukkan kepada publik bahwa dirinya sedang tidak baik-baik saja. Di sisi lain, ada orang yang membuat media sosial sebagai tempat untuk aktualisasi diri. Biasanya hal tersebut dilakukan oleh orang-orang yang good looking dan yang merasa demikian. Memang seperti itulah realitanya, dan saat ini media sosial bahkan tak hanya difungsikan seperti yang telah disebutkan sebelumnya. Penggunaan media sosial sekarang lebih luas daripada itu.
Saat masa pandemi, dimana pembelajaran terpaksa dilaksanakan secara daring, media sosial ‘wajib’ dimiliki oleh siswa, mahasiswa, guru, juga dosen. Tujuannya jelas, supaya proses pembelajaran masih bisa berlangsung. Hal seperti ini merupakan contoh penggunaan media sosial secara positif. Sementara itu, penggunaan media sosial ke arah satunya (negatif) ada banyak contohnya. Salah satunya adalah untuk ‘menyindir orang’. Sepakat atau tidak, faktanya memang tak sedikit orang yang memenuhi media sosialnya dengan sindiran kepada orang lain. Ini sering kali dilakukan melalui status atau grup Whatsapp―dimana orang yang disindir ada di dalamnya. Namanya juga menyindir, pasti ada orangnya lah. Kalau nggak ada orangnya disebut ghibah.
Pertanyaannya, mengapa aktivitas menyindir di media sosial disebut negatif?. Kalau dipikir-pikir, manfaat menyindir di media sosial itu apa sih?. Bikin kaya, enggak. Bikin cerdas, enggak. Bikin tambah ganteng/cantik, apalagi!. Malahan menyindir di media sosial itu cuma menghabiskan waktu yang dimiliki. Daripada setiap hari menyindir, mending nonton sinetron azab di Indosiar. Setidaknya dari sinetron azab ada hikmah yang bisa diambil sebagai bekal menapaki kehidupan.
Bukan hanya itu. Sering menyindir di media sosial juga menjadi indikasi bahwa orang tersebut nggak ada kerjaan/kesibukan. Ketika yang lain sedang fokus dengan kariernya, orang yang suka nyindir cuma nunggu orang yang disindir melihat story-nya. Saat yang lain sudah punya banyak karya/banyak keahlian/banyak pengalaman/hal positif lainnya, orang yang kerjaannya nyinyir punya kemajuan apa? Beban berat hidupnya kah?. Produktif enggak, berkontribusi untuk memberi manfaat juga enggak, makin banyak dosa iya. Astaghfirullah!
Sekadar mengingatkan, khususnya kepada diri sendiri. Mari hentikan aktivitas menyindir di media sosial. Kalau yang disindir merasa, masalah justru kian menggembung. Dan jika yang disindir tak merasa atau malah acuh tak acuh, kan kita sendiri yang justru dapat malu. Bila kita memfungsikan media sosial untuk mendapat pahala, kenapa harus digunakan sebagai sumber dosa!?. Berhentilah menyindir, mulailah berkarya. “Tiap hari kerjaannya nyinyirin orang, malu-maluin keluarga aja!”. Na‘udzubillahi min Dzalik.

0 Comments