![]() |
| Pexels.com |
“Kamu gimana sih!? Masa’ gitu aja nggak bisa!?”. Mungkin banyak di antara kita yang sampai jenuh mendengar kalimat tadi, atau bahkan justru beberapa di antara kita sering mengucapkannya. Sepakat atau tidak, menurut kami kalimat tersebut tak patut dilontarkan seenaknya. Sebab, sudah mafhum diketahui bahwa manusia diciptakan berbeda-beda. Kita dibekali keunggulan dan cacat masing-masing.
Lantas, bila demikian, mengapa kita masih saja mengulang-ulang hal tersebut?. Ini salah satu keburukan kita. Ternyata bukan hanya sistem pendidikan kita yang berusaha mencetak setiap orang menjadi sama, tapi sikap kita sendiri pun selama ini juga seperti itu. Entahlah! Apakah itu buah dari sistem pendidikan atau karakter kita pada dasarnya memang demikian, kami kurang tahu pasti. Intinya, hal seperti ini mesti segera ditransformasi. Bukan semata demi memperbaiki kepribadian diri, melainkan juga mencegah dampak buruk bagi orang lain terhadap hal ini.
Memang, beberapa di antara kita sudah mengerti tentang hal ini, sehingga ia tak mudah menghakimi orang yang belum menguasai suatu bidang. Sayang, kuantitas mereka terlampau sedikit. Oleh karena itu, kita perlu renungkan tentang penyebab kemampuan dan ketidakmampuan orang di bidangnya masing-masing. Ingat tidak dengan ungkapan, “Orang bisa karena biasa”, atau yang semacamnya?. Coba resapi! Relevan tidak dengan fakta yang kita lihat selama ini?. Mayoritas dari kita tentu akan memilih jawaban “Ya”.
Realitanya memang demikian. seseorang bisa menjadi Top Gamer sebab ia biasa (sering) bermain game. Chef pandai memasak sebab ia sering memasak. Kecil kemungkinan orang yang jarang memasak bisa menjadi chef. Dengan begitu, bisa disimpulkan bahwa orang tak bisa melakukan sesuatu sebab ia tak terbiasa dengannya. Seorang penulis belum tentu pandai melukis. Pelukis belum tentu paham pasal videografi. Videografer mungkin tak mengetahui cara menangkap ikan. Nelayan belum tentu mengerti apa itu HTML dan CSS. App Developer juga belum tentu tahu bagaimana memilih diksi yang tepat untuk memperindah tulisan.
Lantas, apakah ada orang yang ahli di setiap bidang?. Untuk menjawabnya, kami sepakat dengan apa yang pernah Spongebob utarakan, “Semua makhluk hebat dalam satu, tapi tidak dalam segala hal”. Artinya, masing-masing dari kita hanya memiliki keahlian di ranahnya masing-masing. Pertanyaannya sekarang, apa dasar dari pernyataan tadi?.
Dalam satu hari, kita semua memiliki waktu 24 jam. Tak ada yang lebih maupun kurang, semua sama. Guna menghabiskan 24 jam ini, kita memiliki cara masing-masing. Ada yang membaca buku, pergi ke sawah, belajar coding, berjibaku dengan industri kreatif, menuhin instagram stories, menangkap ikan, makan-makan, rebahan, rasan-rasan, berimajinasi sebagai penyelamat dunia, de el el. Apapun yang kita lakukan, itulah nantinya yang akan menjadi keahlian kita. Lalu, selanjutnya apa?
Pertama, jangan mudah menghakimi orang yang tidak menguasai suatu bidang!. Kalau sewaktu-waktu kita dibalas olehnya, malu banget kan pastinya!?. Kedua, bila ada orang yang mengatakan kepada kita, “Masa’ gitu aja nggak bisa!? Payah amat sih!”, maka jelaskan padanya secara baik-baik. Jika tidak bisa, maka kita cukup diam, dengarkan, dan lupakan. Biarkan realita yang menyadarkan dirinya. Menanggapinya dengan menyanggah secara tak halus sering kali menimbulkan kerusakan yang lebih besar. Soalnya, sering kali orang-orang seperti itu tak terima ketika disanggah.
Terakhir, kami hanya ingin menyampaikan, mari gunakan waktu sebaik mungkin. Sibukkan diri dengan hal-hal produktif dan bermanfaat. Bila ada satu bidang yang tak kita kuasai, tak mengapa. Toh, semua orang juga (pasti) seperti itu. Seumpama ingin menguasai bidang tersebut, silakan pelajari!. Bila tak mau, tak masalah. Mempelajari bidang yang lain juga punya manfaat tersendiri kok.

0 Comments