![]() |
| Pexels.com |
Barangkali bukber adalah satu hal yang cukup ditunggu-tunggu oleh mayoritas orang. Sebab, di momen itulah kita bisa bertemu kembali dengan sahabat, teman bolos sekolah, musuh di masa lalu, bahkan mantan yang dandan untuk membuat kita menyesal (padahal kita sudah move on darinya). Bukber memang satu hal yang sangat tepat untuk mempertemukan kembali orang-orang yang telah berpisah. Hal itu dikarenakan saat bulan Ramadhan hampir seluruh tempat menerapkan libur (khususnya di penghujung bulan Ramadhan). Sekolah libur, pesantren libur, perguruan tinggi libur, beberapa tempat kerja juga libur. Ini tentu membuat kita dapat menyisihkan sedikit waktu luang untuk kembali berkumpul dngan teman-teman lama.
Dalam perspektif lain, bukber punya peran yang sangat besar dalam menggerakkan roda perekonomian (utamanya di bidang pangan). Secara sederhana, bukber tak hanya meramaikan warung makan. Ia, disadari atau tidak, juga turut melancarkan perdagangan sayur, garam, juga rempah-rempah lainnya. Tapi tetap saja harus diakui, di sisi lain bukber (dalam jumlah yang banyak) memang cukup menguras isi kantong kita. Lantas, bagaimana sebaiknya kita menyikapi hal itu?. Ya.....itu sih pintar-pintar kita ngukur kemampuan diri saja. Bila uang untuk bukber itu masih dari orang tua, masa’ ya tega menghadiri semua bukber?.
Ngomong-ngomong soal bukber, beberapa hari yang lalu sempat muncul berita yang menyebut bahwa masyarakat diperbolehkan bukber tapi dilarang ngobrol saat bukber. Ha? Maksudnya? Lha terus masyarakat harus diem-dieman gitu waktu bukber?. Jika beneran dipraktikkan, tentu hal tersebut akan menjadi momen paling ‘krik-krik dan aneh’ yang pernah masyarakat lakukan. Pejabat-pejabat kita belakangan tampaknya memang suka bicara yang nggak masuk akal. Maklum! Mereka memang sedang sibuk ngurus penundaan pemilu dan perampungan IKN baru.
Seperti telah disebutkan di atas, bukber nggak mungkin diisi dengan saling diam. Selalu ada obrolan, selalu ada basa-basi di antara kita selaku ‘peserta’ bukber. Sebagai momentum bertemu kembali dengan teman lama, atau sekadar berkumpul dengan keluarga tercinta, tak heran jika ada banyak hal yang ingin dibicarakan bersama ‘peserta’ bukber lainnya. Kendati demikian, tetap saja ada bats yang tak boleh kita langgar. Sebab, tak semua hal ingin kita dengar. Berikut 3 hal yang (mungkin) tak ingin kita dengar dalam obrolan bukber.
1. Pamer Kesuksesan
Bagi mayoritas orang, bukber merupakan waktu yang tepat untuk melepas rindu dengan teman lama. Namun, ternyata ada satu spesies yang cukup menjengkelkan. Mereka ini adalah orang-orang yang menjadikan bukber sebagai ajang untuk pamer kesuksesan. Pertanyaan andalan dari spesies ini adalah, “Eh! Kalian udah sesukses apa sekarang?”, atau, “Eh! Kalian udah punya pencapaian apa saja?”. Jangan salah! Pertanyaan semacam itu mereka lontarkan bukan karena mereka memang berniat bertanya. Mereka bertanya demikian karena mereka merasa lebih unggul dari kita. Dengan kata lain, mereka mencoba merendahkan kita dengan gaya.
Tak berhenti di situ. Sering kali belum sempat kita menjawab pertanyaan nggak penting dari mereka, mereka lebih dulu menyebutkan pencapaian-pencapaian mereka. Tentu saja hal termaktub dituturkan dengan nada arogan. Barangkali akan banyak yang setuju jika orang-orang semacam itu dijadikan tumbal proyek. Salah satu metode yang bisa ditempuh untuk menghadapi mereka adalah dengan mengiyakan semua yang keluar dari mulutnya. Kita buat dia merasa semakin tinggi, padahal sebenarnya kita tengah mempermalukannya. Nanti bila ternyata dia menelan ludahnya sendiri, biarin aja! Kita pura-pura nggak tahu
2. Body Shaming
Saat kita berpisah dengan teman lama, masing-masing menapaki jalan yang berbeda. Waktu yang berlalu membuat segalanya berubah. Mulai dari pola pikir, penampilan, sikap, jumlah mantan, hingga bentuk tubuh. Mungkin perubahan-perubahan tersebut akan sedikit membuat kita heran. Kita seolah merasa bertemu dengan orang lain, bukan orang yang pernah kita kenal dulu. Lantas kita bertanya, “Kok kamu jadi seperti ini sih!?”. Padahal, di sisi lain kita sendiri juga berubah. Hanya kita tak melihatnya dan belum menyadarinya.
Nah, yang lebih menyebalkan―atau mungkin lebih tepatnya menyakitkan―adalah komentar (negatif) perihal tubuh. “Kok kamu gendutan sih? Tubuh kamu kok jadi kayak tinggal tulang? Kamu kalo berdiri persis galah buat nyoong mangga ya!?”. Okelah kalau pertanyaan-pertanyaan itu buat orang yang cukup sering ketemu sama kita, mungkin mereka nggak akan tersinggung. Tapi jika pertanyaan-pertanyaan tadi buat orang yang jarang chattingan sama kita, mending tahan dulu. Mengapa? Setidaknya ada 2 alasan. Pertama, kita nggak tahu serentan apa perasaan seseorang. Daripada nambah dosa, mending diam dulu. Kedua, bisa jadi perubahan fisiknya tersebut disebabkan karena ia banyak beban pikir gara-gara sikap ayangnya yang ‘mengeksploitasi’ dirinya.
3. “Kapan?”
Nah, ini yang mungkin paling nggak ingin kita dengar. Pertanyaan ‘kapan’ di sini cukup beragam. “Kapan seminar proposal? Kapan sidang skripsi? Kapan wisuda? Kapan nikah? Kapan punya momongan? Kapan mau main Binomo?”. Hah! Bener-bener pertanyaan yang bikin capek. Ayolah! Stop tanya-tanya kayak gitu. Coba belajar berikan sedikit empati. Kita sendiri nggak nyaman kan nerima pertanyaan-pertanyaan sejenis itu!?. Orang lain pun demikian.
Jadi, saat kita penasaran dengan timeline hidup seseorang, kita bisa bertanya lalu mengiringinya dengan doa. Misal, “Kamu udah sidang skripsi?”; bila dia menjawab ‘belum’, sebaiknya kita merespons dengan begini, “Semoga selalu diberi kelancaran, ya!”. Saya rasa hal tersebut lebih nyaman di telinga sekaligus di hati ketimbang pertanyaan yang memberi kesan menodong. Ribet? Yah.....namanya juga belajar jadi manusia. Kalau mau yang mudah dan seenak jidat, daftar aja jadi antek Dajjal.

0 Comments