Ticker

6/recent/ticker-posts

Mereformasi Fokus Kaum Pesantren Menjadi Lebih Komprehensif

 

Pexels.com/Irgi Nur Fadil

Kita telah melewati perayaan Hari Santri di tanggal 22 Oktober 2023 yang lalu. Sejujurnya, saya sangat senang dengan dicetuskannya peringatan Hari Santri. Hal itu dikarenakan Hari Santri dapat menjadi corong terbesar untuk menyuarakan kepada publik bahwa para santri tidak hanya sibuk mengaji, melainkan juga turut aktif mempertahankan kedaulatan NKRI. Selain itu, Hari Santri pun dapat menjadi tali penyambung rasa nasionalisme di tiap generasi santri. Andai kata tidak ada perayaan Hari Santri, mungkin sebagian santri hari ini tidak akan tahu bahwa dahulu santri juga ikut berjuang melawan penjajah.

Penanaman rasa nasionalisme di kalangan santri menjadi perkara yang penting. Tidak seperti sekolah formal, di pesantren tidak terdapat mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan. Meski demikian, para kiyai tidak pernah absen untuk mengajarkan soal wajibnya mencintai tanah air dan menjaga persatuan. Tak hanya kiyai, banyak dari santri hari ini yang ternyata juga turut serta menyuarakan urgensi nasionalisme. Barangkali hal termaktub merupakan respons para santri terhadap banyaknya kasus radikalisme yang muncul ke permukaan.

Apa yang dilakukan para santri—sebagai tangan panjang kiyai, seperti contoh di atas—layak mendapat apresiasi. Mereka berusaha dengan caranya masing-masing untuk mendeklarasikan bagaimana beragama dan bernegara yang semestinya. Tetapi, saya rasa, perlu ada catatan di sini. Tampaknya terlalu banyak santri yang mengulas isu nasionalisme. Bukan berarti isu nasionalisme itu tidak penting. Ia tetap sangat penting untuk digaungkan. Hanya saja, bila hampir semua dari kita (santri) membahas isu nasionalisme, hal itu akan memberi kesan bahwa kita seolah tutup mata dan telinga terhadap isu-isu penting lainnya.

Harus diakui, selama ini kita memang terlalu fokus pada isu nasionalisme. Saya merasa sebagian dari kita perlu untuk mencoba menyentuh zona yang berbeda dari umumnya. Sebagai contoh, isu soal AI (kecerdasan buatan). Tentu akan sangat menarik menyimak bagaimana pandangan kaum sarungan—yang kerap disebut “tradisionalis” —terhadap kehadiran AI. Kita tahu bahwa adanya AI hari ini berdampak besar pada bagaimana kehidupan berjalan. Membuat tulisan, menciptakan gambar, mentransformasi suara; semua dapat diselesaikan dalam hitungan menit (atau malah detik) dengan bantuan AI.

Santri sangat perlu untuk mengenal AI mulai dari sekarang. Topik AI bukanlah tren musiman. AI akan terus mengalami perkembangan dari waktu ke waktu. Sehingga, di sini aktivitas santri mengenali AI bukan sekadar ikut-ikutan tren semata, tetapi lebih sebagai satu bentuk pemenuhan kewajiban belajar di era ini. Suara para santri tentang AI sangat diperlukan. Apalagi AI juga dapat menjawab persoalan-persoalan dalam ranah agama. Jika santri sama sekali tak merespons hal ini, maka masyarakat kemungkinan akan percaya penuh pada jawaban yang disuguhkan oleh AI. Alasannya bisa jadi 1) masyarakat menganggap santri telah ketinggalan jauh oleh perkembangan zaman, atau 2) masyarakat beranggapan para santri sepakat dengan jawaban dari AI karena mereka tidak memberi tanggapan apa pun.

Selain AI, isu lain yang patut menjadi fokus kaum pesantren adalah isu lingkungan hidup. Bagaimana tidak!? Isu ini memang sangat jarang mendapat perhatian yang cukup dari kita. Beberapa hari terakhir, ketika hujan belum juga turun secara teratur di bulan November 2023 ini, saya kerap menemukan penafsiran atas fenomena termaktub yang cenderung religius-teologis, alih-alih religius-ekologis. Apa yang terjadi hari ini kerap dipahami sebagai azab Allah swt pada manusia yang sudah terlampau banyak dosanya.

Memang hal tersebut tak ada salahnya. Hanya saja, ia akan memberi kesan bahwa Allah swt adalah Dzat yang suka menghukum. Padahal, di sisi lain Allah swt juga merupakan Dzat Yang Maha Mengasihi. Daripada memahami fenomena sekarang sebagai hukuman dari Allah swt, rasanya akan lebih tepat bila kita mengintrospeksi diri bahwa hal tersebut merupakan respons dari alam atas perlakuan kita (manusia) terhadapnya yang terlalu egois dan tamak. Para santri harus mulai menaruh perhatian serius atas isu lingkungan hidup ini. Sebab dalam praktik beragama, selain berinteraksi dengan Allah swt dan sesama manusia, kita—entah disadari atau tidak—sejatinya juga berinteraksi dengan alam.

Sebagian santri lainnya juga perlu menaruh fokus pada isu konsumerisme beragama. Hari ini masyarakat kita punya semangat yang tinggi untuk membangun masjid dan surau. Ini memang bagus, tetapi ada sisi lain yang perlu kita tengok di sini. Banyaknya masjid dan surau kadang justru memunculkan sekat di antara masyarakat, sehingga masyarakat pun terpecah menjadi beberapa kubu (contoh: kubu Masjid Barat, kubu Masjid Timur, kubu Surau Utara, kubu Surau Selatan). Selain itu, barangkali kita juga kerap lupa saat kita begitu bersemangat membangun masjid dan surau, ada satu-dua tetangga kita yang tengah kelaparan. Koreksi dari santri atas fenomena ini sangat dibutuhkan. Tentu supaya masyarakat sadar bahwa selama ini mereka terlalu konsumtif dalam beragama sehingga melupakan problematika sosial yang ada di sekitarnya.

 Masih banyak isu-isu penting lain yang patut menjadi fokus kaum pesantren. Alasan mengapa fokus santri harus lebih komprehensif ialah supaya para santri ikut peduli dengan apa-apa yang sedang terjadi di sekitarnya. Isu nasionalisme, isu beragama dan bernegara itu sangat penting. Tetapi alangkah lebih baik bila para santri juga ikut menyumbang suara terhadap isu-isu lainnya. Jangan sampai kaum pesantren sekadar menjadi penonton di tengah ombak perkembangan zaman saat ini. Jika santri bisa mengambil peran, mengapa harus diam saja!?. Jadi, walau santri kerap dipanggil “kaum tradisionalis”, tapi santri mampu berdialog dengan modernisasi. Wallahu A‘lam.

Post a Comment

0 Comments