![]() |
| Unsplash.com |
Sekira setahun yang lalu, Indra Kenz dicekal lantaran kasus investasi bodong Binomo. Sebagaimana yang telah kita lihat, Indra Kenz telah membodohi publik dengan melakukan flexing. Ia membaiat dirinya sendiri—secara tidak langsung—sebagai crazy rich. Metode yang digunakan ialah mempertontonkan kepada masyarakat seluruh kekayaannya (entah itu berupa uang, rumah, maupun kendaraan) dengan terus-menerus. Metode ini berhasil. Tak sedikit masyarakat yang tergiur dan akhirnya ikut bermakmum pada Indra Kenz untuk ‘berinvestasi’ di Binomo.
Kita tentu sepakat bahwa Indra Kenz salah karena telah membodohi publik. Namun, paradigma masyarakat kita (khususnya soal easy money) juga perlu diubah. Memang patut diakui, harta itu enak lagi menggiurkan. Oleh sebab itu, tak heran bila sebagian besar orang sering teralih perhatiannya kepada ‘pekerjaan mudah’ yang dapat mengalirkan banyak uang. Buktinya bukan hanya pada jamaah investasi bodong di Binomo. Paylater, pinjaman online, judi slot, hingga bank plecit juga merupakan deretan bukti bahwa sebagian orang sangat tergiur dengan easy money.
Permasalahan easy money ini tampaknya cukup rumit untuk dituntaskan. Alasannya adalah kondisi ekonomi yang mencekik berpotensi mengaburkan pemikiran manusia bahwa uang banyak hanya bisa didapat dengan kerja keras. Sekarang, mari kembali ke persoalan flexing. Sepakat atau tidak, nyatanya flexing tak hanya terjadi pada orang-orang yang (tampak) kurang dekat dengan lembaga keagamaan. Jika kita melihat lebih jeli, orang-orang yang ‘berenang’ di lembaga keagamaan ternyata juga turut melakukan flexing.
Entah diakui atau tidak, sebagian santri pernah memamerkan kemewahan di media sosial. Kemewahan di sini bukan berupa uang banyak atau kendaraan mahal, melainkan berupa sarung. Ya! Sarung. Saya pernah menemukan konten dengan caption kurang-lebih begini, “Maaf! Aku hanya punya sarung”. Caption ini memang memberi kesan rendah hati. Namun, dalam konten tersebut, logo BHS pada sarung dijadikan sebagai sorotan utama. Tentu hal ini menimbulkan pertanyaan, “Jika memang tujuan konten itu dibuat untuk merendah/tawadhu’, mengapa harus logo BHS yang menjadi fokus utama?”.
Mulanya, saya mencoba untuk berpikir positif. Barangkali konten termaktub dibuat untuk menunjukkan bahwa para santri (juga) memiliki “equipment premium”. Dengan begitu, citra santri tidak lagi dipandang sebelah mata. Namun, konten-konten serupa kemudian bermunculan. Saya pun tidak dapat lagi berpikir positif atasnya. Saya kemudian merasa bahwa konten-konten tersebut justru menjadi ajang pamer di kalangan santri. Mestinya, sebagai santri, mereka perlu mempertimbangkan terlebih dahulu beberapa hal sebelum membuat konten semacam itu.
Pertama, konsumen dari konten flexing sarung tersebut adalah semua usia, termasuk di dalamnya remaja yang masih belum mampu berpikir panjang. Andaikata ada seorang remaja yang merengek meminta dibelikan sarung BHS kepada orang tuanya karena konten tersebut, sementara level ekonomi orang tuanya menengah ke bawah, siapa yang bertanggung jawab atasnya?. Jika ada yang bertanya, “Untuk apa seorang remaja ngeyel supaya dibelikan sarung BHS?”. Hey, ingat! Masa remaja itu tidak sesederhana masa kanak-kanak. Remaja ingin dibelikan sarung BHS bisa jadi untuk ia pamerkan di media sosial atau untuk ia tunjukkan di hadapan teman-temannya supaya ia mendapat status sosial yang tinggi.
Kedua, ibadah itu soal kualitas hati, bukan sekadar soal kualitas sarung. Saya tahu ini terdengar klise. Kita mungkin hampir selalu menemukan pembelajaran ini dalam ulasan ibadah. Namun, para santri pembuat konten flexing sarung itu mestinya merenungkan dulu bahwa konten mereka bisa saja mengalihkan pandangan masyarakat; dari yang mulanya fokus pada kualitas ibadah berubah haluan menjadi fokus pada kualitas (harga) sarung. Ini tentu ironis mengingat para kiai selalu mengajarkan bahwa kualitas (harga) sarung tidak lebih penting daripada kualitas kalbu saat beribadah.
Ketiga, konten flexing sarung berpotensi memancing orang lain untuk membuat konten yang serupa. Akhirnya apa? Konten-konten seperti itu yang terus membuncah menjadikan kita berkompetisi mahal-mahalan harga sarung. Bahkan tak menutup kemungkinan perkara ini merembet pada kompetisi mahal-mahalan harga busana lainnya (misalnya baju, peci, sajadah, hingga sandal). Lagi-lagi, sangat ironis!. Para kiai selalu mengajarkan kita perihal kesederhanaan. Namun, di media sosial kita malah mempraktikkan yang sebaliknya.
Memiliki sarung BHS (atau pun busana dengan harga mahal lainnya) bukan merupakan suatu larangan—baik itu dalam konteks agama maupun sosial. Memakainya saat ibadah, rapat, ngopi, atau kondangan juga sah-sah saja. Perkara yang perlu kita renungkan ulang adalah keinginan kita untuk memamerkannya di media sosial. Sering kali kita enggan mengakui hal ini. Kita hampir selalu berlindung di balik frasa “hanya konten”.
Kritik dari saya ini mungkin akan membuat sebagian orang berpikir, “Hidup gini aja, kok diperrumit!”. Namun, sebagai santri, bukankah prinsip dasar kita adalah “meneladani para kiai” dan “memberi teladan pada mereka yang belum mengetahui!?”. Jika para kiai saja tak pernah menunjukkan seberapa banyak sarung BHS yang dimiliki, mengapa kita malah bangga melakukan yang sebaliknya?. Jadi, intinya, ini bukan soal hidup yang diperrumit, melainkan tentang bagaimana santri yang harus berakhlak santri. Wallahu A‘lam.

0 Comments