Ticker

6/recent/ticker-posts

Nikah Muda Bukan Satu-satunya Solusi Mencegah Zina

 

Unsplash.com

Sekitar 2 tahun yang lalu, saya melihat rombongan mahasiswa sedang pawai dalam rangka memperingati maulid Nabi saw. Salah satu dari mereka ada yang membawa papan bertuliskan (kurang-lebih) seperti ini, “Lebih baik nikah muda daripada zina”. Saya tersenyum membacanya, berpikir sejenak, lalu berkata dalam hati, “Benar juga, ya!”. Slogan tadi hendak saya buat status Whatsapp, tapi urung saya lakukan. Sebab, nampaknya slogan tersebut ‘sudah’ terlalu mainstream. Waktu itu usia saya baru menginjak angka persyaratan untuk mendapat KTP. Maklum! Masih berpikir bahwa cinta itu hanya soal rasa.

Waktu berlalu, tibalah saya di tahun yang penuh ketidakjelasan dan ketidakpastian. Semua yang mulanya lumrah berubah dilarang, termasuk tatap muka di dalam kelas. Selanjutnya, kalian tahu sendiri lah. Daring, tugas menumpuk, tak paham materi, kuota habis secepat jaringan 4G. Semua itu masih ditambah lagi dengan sajian media yang bikin otak mual. Kematian, PHK, harga murah dan uang sulit, masker SNI, razia masker. Tak ada berita bagus sama sekali. Demi menjaga kewarasan, saya berusaha mencari hiburan dengan cara scroll Instagram. Tetap jenuh sih sebenarnya, dan tak ada perbaikan mood sama sekali. Sampai akhirnya saya bertemu dengan akun @si.itek yang berisi komik.

Jujur, saya sangat terhibur dengan guyonan yang disuguhkan oleh @si.itek. Alurnya nggak ketebak dan candaannya selalu bisa bikin tertawa (tapi ini menurut saya pribadi lho, ya). Setelah melihat beberapa postingandan ngakak karenanyabertemulah saya dengan postingan yang membahas pasal nikah muda. Dalam postingan tersebut dijelaskan bahwa cara untuk mencegah zina itu bukan hanya nikah muda. Lalu apa? “Mati muda”. Ini benar-benar solusi yang out of the box. Benar juga, kalau sudah meninggal dunia mana mungkin orang berbuat dosa. “Jadi, kita lebih baik bunuh diri di masa muda dong!?”. Ya, bukan begitu juga. Itu kan cuma gurauan.

Mati muda sebagai pencegah zina memang solutif sih, asalkan matinya memang karena sudah habis masanya. Jika belum habis, ya jangan dipaksakan habis lah!. Lalu, selain mati muda, ada nggak cara untuk mecegah zina?. Banyak sih, salah satunya tercantum dalam hadis Nabi saw berikut.

يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ، مَنِ اسْتَطَاعَ البَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ، فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ، وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ

“Wahai para pemuda! Barangsiapa yang sudah sanggup menikah, maka menikahlah!. Sebab, itu lebih (bisa) menundukkan pandangan dan lebih menjaga kemaluan. Barangsiapa yang belum mampu, maka berpuasalah karena puasa itu ibarat obat pengekang baginya.” (HR. Bukhari).

Nabi saw memberi solusi pencegahan zina dengan puasa. Namun, sayangnya tak sedikit anak muda yang banyak alasan saat hendak puasa (sunnah), termasuk saya sendiri pastinya. Dalihnya macam-macam, mulai dari nggak ada temannya buat puasa, takut nggak kuat menjalani kesibukan, sungkan dikira sok alim, beranggapan cuma ibadah sunnah, dan sederet alasan lain.

Ini yang menjadi catatan bagi kita. Sebenarnya kita hanya terlalu banyak alasan, dan itulah yang membuat kita stagnan di zona nyaman. Mungkin hal tersebut pula lah yang membuat kita berpikir bahwa satu-satunya cara mencegah zina adalah nikah muda. Kita beranggapan bahwa semua akan indah selepas menikah. Sebab, tak ada lagi larangan, semua halal dilakukan. Kita lupa mencatat poin penting dari hadis di atas. Nabi saw memberi perintah menikah bagi mereka yang telah ‘sanggup/mampu’. Mampu di sini maknanya luas, bukan semata mampu secara mental tapi juga mampu secara finansial.

Kan kalau kita menikah, sumber rezeki kita akan disatukan dengan istri/suami, sehingga membuatnya lebih besar”. Iya, benar. Tapi ingat! Rezeki itu harus diusahakan, bukan ditunggu dengan berdiam diri bersandingkan lamunan. Bila kita beranggapan bahwa dengan bergegas menikah maka rezeki akan mengalir sendiri dengan derasnya, tentu ini salah. Analogi burung yang meninggalkan sarang untuk mendapat makanan nampaknya sudah cukup memberikan pemahaman pada kita tentang hal ini. Bila kita terburu-buru menikah tanpa ‘persiapan’, itu justru akan mempersulit kita sendiri. Minim pengalaman, rendah tingkat pendidikan, belum paham problematikan kehidupan. Semua itu bisa diantisipasi asalkan kita bersabar, terus belajar, dan mempersiapkan diri baik mental maupun finansial. Jadi, menikahlah dalam keadaan benar-benar siap!.

Post a Comment

0 Comments