![]() |
| Pexels.com |
Mentari tak menyapa
Dihalangi oleh awan kelabu yang nampak kurang memesona
Kesedihan yang mendalam tersirat dari raut wajahnya
Dia hanya berbuat sebagaimana kehendak semesta
Air tanpa henti-hentinya berjatuhan
Menghalangi manusia untuk bebas berjalan dan berlarian
Mencegahku tersenyum pada burung-burung yang bersenandung bergantian
Seperti hari itu yang kini hanya berupa kenangan
Hawa dingin menyelimuti
Memberi titah padaku untuk menyeduh secangkir kopi
Bertabur sedikit gula putih berseri
Juga paras ayumu yang masih belum bisa kudekap di sini
Secangkir kopi itu lantas menjadi teman
Menyaksikanku yang tiba-tiba terjebak dalam renungan
Tak ada satu pun kata ia ucapkan
Pun tak satu pun tanya padanya kulemparkan
Pikiranku jauh melalangbuana
Menyesali masa lalu, dan takut pada masa yang akan tiba
Bukankah waktu terlampau cepat habis sia-sia?
Dan, apa yang aku petik darinya?
Ketika pikiranku telah kembali
Awan kelabu berangsur pergi
Di sisi lain, secangkir kopiku telah terlampau dingin untuk dinikmati
Aku kembali menyesali
Oktober 2021

0 Comments