Ticker

6/recent/ticker-posts

Protes untuk Pengguna Diksi Ilmiah yang Belum Paham Betul Penempatannya

 

Pexels.com

Bahasa merupakan sesuatu yang tak bisa dipisahkan dari kehidupan manusia. Sejak kecil kita sudah diajarkan untuk berbahasa. “Anak’e sopo iki ganteng dewe; anak’e sopo iki ayu dewe; anak’e sopo iki pinter dewe”, begitulah yang sering terdengar. Sebenarnya hal tersebut merupakan bagian dari proses pembelajaran bagi anak untuk berbahasa. Proses tersebut menjadi sesuatu yang penting mengingat anak kecil sering mempelajari segala sesuatu dengan cara meniru apa yang didengar dan dilihat—khususnya dari orang-orang terdekatnya. Tanpa pembelajaran seperti itu, maka kemungkinan besar perkembangan anak dalam berbahasa cenderung pasif, lambat.

Bicara soal bahasa, kita sudah tahu bahwa setiap bahasa memiliki ragam kata masing-masing. Dalam bahasa Inggris ada ‘call-called-called’ dan ‘drink-drank-drunk’; dalam bahasa Jawa kita mengenal ‘kowe-sampeyan-panjenengan’; dan masih banyak lagi. Sementara itu, bahasa Indonesia—menurut KH. Ahmad Mustofa Bisri—merupakan bahasa dengan kosa kata yang sedikit. Hal tersebut bisa dilihat dari banyaknya kata naturalisasi serapan dari bahasa lain; mayoritas dari bahasa Arab dan bahasa Inggris.

Gus Mus mencontohkan kasus tersebut dengan kata “silaturahmi” dan “silaturahim”. Kata “silaturahmi” itu bahasa Indonesia, sementara “silaturahim” merupakan bahasa Arab. Hampir serupa dan tak sama, bedanya cuma pada letak huruf ‘i’. Yah...memang itulah yang terjadi pada bahasa nasional kita. Ngomong-ngomong soal bahasa Indonesia, kita mengenal di dalamnya sekelompok kosa kata yang disebut diksi ilmiah. Diksi ilmiah cenderung sulit dipahami masyarakat awam, karena memang dalam kesehariannya mereka jarang/tak pernah menggunakannya untuk berkomunikasi.

Diksi ilmiah biasanya digunakan dalam semesta akademik, khususnya dalam penulisan karya ilmiah. Mahasisawa, sebagai bagian dari semesta akademik, tentu pernah—bahkan sering—bersinggungan dengan diksi ilmiah. Disebabkan diksi ilmiah memberikan kesan ‘pinter’ bagi penggunanya, tak sedikit mahasiswa yang lantas memakainya untuk berbicara. Sayangnya, penggunaan diksi ilmiah tersebut kadang tak dibarengi dengan pemahaman terhadap maknanya. Akibatnya apa? Kalimat yang dilontarkan terkesan aneh, dan pastinya tak memberikan pemahaman bagi pihak pendengar.

Saya pernah menemui kasus semacam itu. Mbak ANH (20) merupakan salah seorang mahasiswi di salah satu kampus di Jember, Jawa Timur. Beberapa waktu yang lalu, beliau mendapat tugas UAS untuk membuat video. Dalam videonya tersebut, mbak ANH sempat mengucapkan kalimat seperti ini, “Teman-teman! Kalian rasa elok nggak sih kalo aku ingin membicarakan tentang moral, tanpa ingin di-judge menjadi polisi wanita moral?. Yah! Tentu, jawabannya sangat perspektif yang akan aku dapatkan nanti”. Wew! Terdengar sangat ilmiah dan keren ya, saudara-saudara. Jujur, mulanya saya langsung mengerutkan kening ketika mendengar kalimat tersebut—khususnya pada frasa “sangat perspektif”. Namun, selepas saya dengarkan ulang beberapa kali, saya malah ngakak sendiri.

Ketika saya tanya apa maksud dari kalimat tadi, “Maksudnya itu, jawaban dari pertanyaanku tadi tergantung sudut pandang setiap orang”, papar mbak ANH. Owalah, cuma gitu tho! Lha terus, ngapain kalimatnya dibikin ribet plus berbelit-belit segala!?. Padahal cukup dengan kalimat, “Jawabannya tergantung sudut pandang masing-masing orang”, itu bisa langsung memberikan pemahaman kepada semua individu—tak terkecuali si pengucap sendiri. Yah...mungkin mbak ANH ini ingin membangun citra diri sebagai pribadi yang cerdas, berwawasan luas, dan representasi insan akademis tentunya. Makannya beliau menggunakan frasa “sangat perspektif” yang menurutnya begitu ilmiah.

Mbak ANH nampaknya menganggap kata ‘perspektif’ sebagai kata sifat seperti beberapa kata yang diberi akhiran –if; misalnya persuasif, manipulatif, deskriptif. Oleh sebab itu, beliau menyematkan kata ‘sangat’ sebelum kata ‘perspektif’, yang mana makna yang beliau kehendaki adalah “sangat sundung pandang-able”. Namun, ‘if’ dalam kata ‘perspektif’ bukan merupakan akhiran. Ia adalah huruf penyusun kata tersebut, yang mana keberadaannya tidak bisa dihilangkan.

Selain itu, kata ‘perspektif’ itu kata benda, bukan kata sifat. Sehingga, penggunaan frasa ‘sangat perspektif’ justru membuat kalimat jadi tidak bermakna. Jadi, buat para fanbase diksi ilmiah—juga buat saya sendiri—yang belum terlalu paham penggunaan dan penempatan diksi ilmiah, mending pikir-pikir dulu deh sebelum memakainya cuma untuk gaya-gayaan. Soalnya, kalau penempatanya nggak tepat, alih-alih terkesan ‘pinter’ dan gaul, yang ada malah jadi amburadul.

Post a Comment

0 Comments