![]() |
| Pexels.com |
Awan hitam merapat ketika aku masih berada di sawah. Orang-orang telah pulang sejak tadi, sekarang aku hanya sendiri. Angin berhembus cukup kencang menabrak pepohonan, membuat suasana terasa semakin mencekam.
“Haduuuhh! Mana rumput belum dapat banyak lagi”, aku menggerutu lalu menggantinya dengan doa, “Ya Allah! Tolong jangan beri izin hujan untuk turun dulu!”
Namun, ternyata Tuhan berkehendak lain. Tetes air mulai terjatuh dari langit kelabu, dengan cepat ia menjelma menjadi hujan yang begitu deras. Hatiku memprotes hal tersebut, tapi bagaimana pun aku harus mendapat rumput yang cukup untuk makanan kambing. Aku meneruskan rutinitasku di bawah derasnya hujan.
*****
Malam harinya aku mengaji seperti biasa di sebuah langgar kecil, bakda maghrib. Kiai Abdillah adalah satu-satunya pengajar di sana, ia bahkan telah mengajar sejak lama. Sepertinya ketika aku baru lahir ia telah mengajar ngaji anak-anak di langgar kecil itu. Bukan hanya mengajar, kiai Abdillah juga merupakan imam shalat berjamaah di langgar tersebut. Lima waktu, selalu kiai Abdillah yang berada di ujung saf jamaah.
Tak jarang kiai Abdillah merangkap semua posisi sekaligus. Mulai dari muazin, imam, juga makmum. Hal tersebut disebabkan karena hampir tak ada penduduk di daerahku yang berkenan untuk mengambil peran-peran tadi, bahkan untuk sekadar bermakmum di langgar. Mungkin kehadiranku dan beberapa teman lainnya sedikit melegakan hati kiai Abdillah. Sebab, masih ada orang yang mau datang ke langgar kecil itu.
Pengajian di langgar kecil sehabis maghrib itu berdurasi sangat pendek. Jika jam telah menunjukkan pukul 06.45, maka pengajian akan diakhiri dan azan isya’ dikumandangkan. Selepas shalat isya’ berjamaah, aku dan teman-temanku langsung pulang ke rumah masing-masing. Namun, hari itu hujan memang tampak sedang suka sekali bertamu.
Sehabis shalat isya’, rintik hujan mulai terdengar. Aku dan teman-temanku melihat langit, di sana kilat sedang bersahut-sahutan menghiasi malam. Belum juga kami turun dari langgar, hujan turun dengan begitu derasnya.
“Hadeehhh! Hujan lagi”, aku menggerutu. Tanpa kusadari, ternyata kiai Abdillah berjalan ke arahku.
“Kenapa, Bal? Kayaknya kamu sangat membenci hujan?”, tanya kiai Abdillah.
Aku sedikit kaget karena tak menyadari kehadiran kiai Abdillah. “Eh! Bukan begitu pak kiai. Hanya saja tadi sore waktu saya mencari rumput, hujan juga turun sangat deras. Hal itu menghambat saya dalam mencari rumput. Saya pun jadi pulang dengan keadaan basah kuyup”, aku menjawab jujur dan sedikit menutupi rasa benciku pada hujan.
“Oh, jadi begitu ceritanya. Apa yang kamu rasakan itu nggak salah kok. Maklum bila kita membenci satu hal yang membuat pekerjaan kita terhambat. Namun, alih-alih terus mengeluh akan hal tersebut, bukannya lebih baik bila kita berdoa supaya hal tersebut bisa membawa manfaat pada kita?. Sebagai manusia, kita nggak pernah tahu doa kita yang mana yang diijabahi. Oleh sebab itu, jangan sampai kita berdoa hal-hal buruk. Usahakan selalu berdoa hal-hal baik. Jika salah satunya dikabulkan, kita sendiri yang akan memetik buahnya kan?”.
“I... Iya, pak kiai”, aku menjawab canggung.
Memang seperti itulah karakter kiai Abdillah. Ia tak pernah langsung menyalahkan perbuatan kami. Ia selalu menggunakan pendekatan yang manusiawi. Nampaknya ia berusaha menempatkan dirinya pada posisi lawan bicaranya. Hal tersebutlah yang membuat kami semua merasa segan dengan kiai Abdillah.
Setelah setengah jam berlalu, hujan belum juga menunjukkan tanda-tanda akan reda. Satu per satu dari orang tua kami lantas datang menjemput. Semua pulang, langgar pun sepi. Hanya menyisakan kiai Abdillah yang masih menunggu hujan reda sambil berzikir di dalam langgar.
*****
Bel berdering, menandakan jam pulang tiba. Aku segera menyelesaikan catatanku supaya bisa cepat meninggalkan kelas. Saat aku melangkah melewati gerbang, di depanku segerombolan perempuan berjalan. Awalnya aku merasa biasa saja, tapi sejenak kemudian mataku melihat perempuan yang kusukai selama ini. Namanya adalah Afifa.
Karena merasa agak canggung, aku menghentikan langkahku terlebih dahulu. Menunggu para perempuan tersebut agak jauh dariku. Entah mengapa aku tak ingin Afifa melihat diriku. Setelah cukup jauh, aku pun melanjutkan langkahku menuju tempat penitipan sepeda motor untuk mengambil sepedaku. Saat di jalan, aku merasa begitu gelisah. “Bagaimana caraku mengatasi rasa canggung itu?”, tanyaku dalam hati. Karena tak menemukan solusi sama sekali, aku memutuskan untuk menceritakan hal ini pada Rois sepulang mengaji di langgar nanti.
Awan kelabu tampak mulai berkumpul. Aku menarik gas lebih dalam, berharap semoga hujan tak mengguyurku sebelum aku sampai rumah. Beruntung jarak rumahku sudah tak terlalu jauh, aku hanya sedikit terkena tetesan hujan. Saat sampai di rumah, aku langsung merebahkan diri sambil menikmati musik dari tetesan hujan. Entah mengapa, sekarang hujan bagiku sangat menenangkan.
*****
“Ada apa, Bal? Tumben pulang ngaji kamu ngajak ke sini?”, tanya Rois padaku. Kami tak membicarakan hal ini di langgar. Tentu saja tidak, kiai Abdillah akan melarang kami pastinya jika mengetahui topiknya. Oleh sebab itu, aku mengajak Rois di sebuah gubuk dekat jalanan. Beruntung desa kami sudah memiliki lampu jalanan, jadi gubuk yang kami tempati kali memiliki pencahayaan yang cukup.
“Aduh, gimana ya, Is! Aku bingung mau memulai dari mana.”
“Halah, kamu itu, Bal! Kayak baru kenal sama aku aja.”
Aku terdiam sejenak, mencoba merangkai kalimat. Kutarik napas dalam, Rois masih menunggu apa yang akan kukatakan. “Gini, Is. Kamu kan udah pernah punya banyak pacar. Aku mau tanya cara kamu menyatakan perasaanmu pada mereka itu seperti apa sih?”
Rois tertawa, menyadari betapa ‘nakalnya’ dirinya. Selepas habis tertawa, Rois mulai menjawab. “Jadi itu ternyata yang mau bicarakan. Gimana ya cara menjelaskannya...?”, Rois menatap ke atas, memikirkan sesuatu. “Emm... Sebenarnya aku nggak pernah punya cara khusus sih, Bal. Waktu aku mau mengungkapkan, ya cuma mengajak si perempuan ke suatu tempat untuk berbincang, terus nanti aku ungkapin perasaanku. Cuma kayak gitu aja sih.”
“Kamu becanda ya, Is?”, aku ragu.
“Enggak, Bal. Ngapain juga aku becanda ketika temanku butuh bantuan. Aku benar-benar jujur, Bal!”, Rois meyakinkanku.
Meski demikian, aku masih belum percaya sepenuhnya dengan Rois. “Benarkah mengungkapkan perasaan pada perempuan bisa semudah itu?”, tanyaku dalam hati.
“Oke, Is. Makasih banyak ya”, aku mencoba menyembunyikan keraguanku.
“Oke, Bal! Semoga berhasil”, Rois tersenyum.
Setelah selesai bercakap-cakap, kami berdua berpisah menuju rumah masing-masing. Sementara itu gelap malam mulai merambat, sinar rembulan tak mampu melawannya. Langkahku menuju rumah diiringi suara jangkrik yang memecah keheningan.
*****
Aku masih ragu dengan apa yang dikatakan Rois tadi malam. Namun, di sisi lain aku merasa jika aku terus saja diam, orang lain malah akan mendahuluiku menyampaikan perasaannya pada Afifa. Pikiranku terus berperang, menerka setiap kemungkinan. Karena merasa lelah, akhirnya kuputuskan untuk menuruti kata Rois. Mungkin tak ada salahnya mencoba.
Saat waktu istirahat tiba, aku mendekat ke bangku Afifa. Aku memulai percakapan dengan menanyakan pelajaran fisika, memintanya menjelaskan sejenak. Setelah Afifa habis memaparkan, aku mencoba mengungkapkan maksudku padanya.
“Fa! Kamu nanti pulang sekolah ada waktu nggak?”
“Ada kok, Bal. Emang kenapa?”
“Eee..... Ini, masih banyak yang belum kupahami dari fisika dan kimia. Kamu nanti mau nggak mengajariku dua mata pelajaran itu?”
“Boleh, Bal! Tempatnya di mana?”
“Kalau di taman, kamu mau nggak?”
“Oke, siap! Jam 3, ya Bal.”
“Oke, Fa!”, aku merasa sangat lega karena Afifa mau menerima ajakanku. Sekarang, aku tinggal menyiapkan rencana untuk mengungkapkan perasaanku pada Afifa.
Saat jam pulang tiba, aku bergegas ke rumah. Mandi, memakai baju terbaik, menyemprotkan minyak wangi. Aku kemudian menatap diriku di depan cermin, berlatih mengucapkan ungkapan perasaanku pada Afifa nanti. Berkali-kali, hingga aku mendapat kalimat yang terdengar memesona. Setelah benar-benar siap, aku segera berangkat ke taman.
Jam menunjukkan pukul 3 kurang 10 menit, tapi kehadiran Afifa masih belum terlihat. Aku sebenarnya tak sabar, tapi aku mencoba menenangkan diri dan berpikir positif. “Mungkin Afifa masih membantu orang tuanya di rumah”, ucapku dalam hati. Satu jam berlalu, masih belum terlihat tanda-tanda Afifa akan datang. Sementara itu, satu per satu orang di taman mulai kembali pulang. Menyisakan aku yang masih sendirian menunggu.
Langit mulai berubah warna jadi kelabu. Perasaanku masih bimbang dan bertanya-tanya, kemana sebenarnya Afifa. Makin lama menunggu, aku semakin frustrasi. Sepertinya Afifa enggan menepati janjinya. Sekarang, aku tak lagi menunggu kehadiran Afifa, yang kutunggu kini hanya hujan. Sebab, hanya hujan yang mampu membuatku tenang.
0 Comments