Ticker

6/recent/ticker-posts

Sinetron Memang Sudah Seharusnya Tidak Mendidik

 

Pexels.com

Sinetron adalah hal yang tak asing lagi bagi masyarakat Indonesia. Sinetron saat ini bahkan menjelma menjadi semacam kebutuhan yang harus ada setiap hari. Dalam KBBI, sinetron didefinisikan sebagai film yang dibuat khusus untuk penayangan di media elektronik, seperti televisi. Seiring berkembangnya teknologi, sinetron tak hanya disajikan melalui televisi. Sinetron juga merambah pada dunia layanan streaming. Hal tersebut tentu semakin memudahkan penikmat sinetron—utamanya garis keras—untuk menonton kapan saja dan di mana saja.

Satu hal yang paling sering disorot dari sinetron adalah sisi tidak mendidik. Ya! Banyak orang menyatakan bahwa sinetron itu tidak mendidik. Namun, di sisi lain sinetron sendiri memiliki banyak peminat. Akibatnya, satu golongan ingin supaya penayangan sinetron dihentikan, sementara golongan lain berharap supaya sinetron terus ditayangkan. Bagi saya perbedaan tersebut tak jauh beda dengan perdebatan antara player (garis keras) PUBG dan Free Fire.

Kembali ke pembahasan sinetron tidak mendidik. Dalam podcast Musuh Masyarakat, ada pernyatan dari Coki dan Muslim yang cukup menarik sekaligus menggelitik menurut saya. Mereka berdua berpendapat, “Menurut kita, sinetron tidak mendidik harus ada. Kenapa? Karena sinetron memang tidak harus mendidik. Kalau kita menuntut sinetron untuk mendidik, sinetron tuh tugasnya bukan mendidik. (Yang punya) tugas mendidik siapa? Mendikbud". Ini benar-benar opini yang out of the box sekaligus mengandung kebenaran.

Bila direnungkan, pendidikan adalah perkara yang memang masuk dalam ranah urusan mendikbud. Sinetron itu merupakan sarana hiburan bagi penonton, jadi ya...wajar bila sinetron tidak mendidik; karena mendidik memang bukan ranah urusan dia. Pertanyaannya sekarang, bila sinetron memang tidak mendidik, apakah ia pantas tayang di TV?. Mungkin mayoritas orang akan menjawab, “Ya jelas nggak layak lah!”, tapi...mari kita lihat realitanya!. Sampai saat ini, sinetron masih saja eksis di TV. Jadi, jawaban yang tepat untuk pertanyaan tadi adalah, “Ya...itu tergantung KPI. Bila KPI berkata “Layak tayang", penolakan kita jelas akan berbuah sia-sia".

Okee! Kita tahu sinetron tidak mendidik, kita tahu penolakan kita sia-sia, lalu apa yang harus kita lakukan?. Jawabannya yakni mengambil sikap yang bijaksana dengan cara memilih tontonan yang menurut kita bagus dan mendidik. Gampang kok sebenarnya, kalau kita tahu sinetron itu tidak mendidik dan akan memberi dampak negatif bagi diri kita, ngapain tetep ditonton?. Kadang kita tak sadar bahwa yang memperrumit keadaan adalah diri kita sendiri. “Mau gimana lagi? Hiburan yang ada Cuma itu". Boss!! Zaman sudah jauh berbeda dari sebelumnya. Dulu, sumber hiburan sangat terbatas. Sekarang, kita bisa mendapat hiburan dalam bentuk apapun melalui gadget yang tak pernah lepas dari tangan kita.

Saat ini kita bisa memilih tontonan jenis apapun yang kita kehendaki. Mulai dari sepak bola, film Hollywood, orang bermain game, hingga orang makan. Ingat! Sebagai manusia kita telah dianugerahi akal, yang mana akal tersebut—bila digunakan dengan benar—akan menuntun kita menuju arah yang benar. Dengan akal, kita bisa tahu mana yang baik dan mana yang buruk. Oleh sebab itu, jangan sia-siakan anugerah tersebut karena tak ada makhluk lain selain manusia yang memilikinya.

Jadi, pernyataan bahwa sinetron itu tidak mendidik adalah benar dan memang sudah seharusnya seperti itu. Kembali mengutip pendapat Coki dan Muslim yang menyatakan bahwa ketidakmendidikan sinetron itu sering kali terletak pada judulnya. Contoh, “Jenazah Mandor Kejam Mati Terkubur Cor-coran dan Tertimpa Meteor", ini jelas nggak logis dan nggak mendidik. Namanya meteor ketika jatuh ya pasti menimbulkan dentuman yang tak kecil. Jelas tak mungkin meteor hanya menimpa satu orang (jenazah), orang-orang yang berada di sekitarnya tentu akan terkena dampaknya pula. Yah...bgitulah! Namanya juga cerita fiktif. Tapi ya...masa' ketidaklogisannya kebangetan!? Hadeeehh!!.

Post a Comment

0 Comments