Ticker

6/recent/ticker-posts

Dalih Penting Mengapa Kita Harus 'Paham dan Memahami'

 

Pexels.com

Satu anugerah agung yang tak diberikan kepada makhluk lainnya, hanya diberikan pada manusia, adalah akal. Dikatakan agung karena memang ketika seorang manusia ‘dengan sengaja' tidak menggunakannya, ia akan menjadi serupa hewan—bahkan bisa jadi lebih buruk dari itu. Terkait hal ini, KH. Anwar Zahid pernah menganalogikan begini, “Ketika kambing Anda masuk ke kandang kambing tetangga tanpa izin, kemudian selang beberapa waktu kambing tetangga tadi ada yang hamil, maka tetangga tersebut akan sangat berterima kasih pada Anda. Berbeda ceritanya bila anak Anda masuk ke kamar anak perempuan tetangga tanpa izin dan selang beberapa waktu si anak perempuan tersebut hamil, pasti tetangga Anda akan begitu marah pada Anda".

Makna analogi tersebut sebenarnya bukan semata tentang hamil-menghamili. Secara kontekstual, inti dari analogi tersebut adalah apabila manusia tak menggunakan akalnya maka akan menimbulkan keresahan di masyarakat. Contoh sederhana, ada seorang penceramah yang enggan duduk di kursi empuk yang telah disiapkan panitia pengajian. Ia menganggap bahwa kursi tersebut merupakan kursi gereja. Hal tersebut tentu meresahkan orang yang mendengar, khususnya panitia pengajian. Secara logika, mana mungkin panitia pengajian meminjam kursi ke gereja untuk tempat duduk satu orang yang posisinya saat itu sebagai penceramah.

Tujuan panitia pengajian menyiapkan kursi yang demikian tentunya supaya penceramah merasa nyaman, disamping juga untuk memuliakan si penceramah. Akan lebih baik bila alasan keengganan duduk di kursi tersebut diganti dengan misalnya, “Saya nggak mau merasa paling nyaman di sini. Saya ingin merasakan apa yang dirasakan jamaah yang hadir di sini, yang mana mereka memiliki niat dan kesungguhan untuk menuntut ilmu". Alasan tersebut sangat kecil kemungkinannya menyakiti hati panitia pengajian yang sudah bersusah payah menyiapkan segalanya.

Perihal paham dan memahami, al-Qur'an sendiri banyak menegaskan supaya manusia mendayagunakan akal yang dimilikinya. Misalnya perintah membaca yang tertera dengan jelas dalam wahyu yang pertama diterima Nabi saw. Atau perintah al-Qur'an supaya manusia memperhatikan hal-hal yang sederhana, “17) Maka tidakkah mereka memerhatikan unta, bagaimana ia diciptakan. 18) Dan langit, bagaimana ia ditinggikan. 19) Dan gunung-gunung, bagaimana mereka ditegakkan. 20) Dan bumi, bagaimana ia dihamparkan". Semua itu menjadi indikasi bahwa adalah sesuatu yang tidak diperbolehkan bila manusia menyia-nyiakan akalnya.

Ada dua sisi menarik dari perintah pendayagunaan akal dari al-Qur'an tersebut. Pertama, tidak ada perintah tersurat untuk hanya membaca teks. Kedua, perintah tadabbur ditujukan pada hal-hal yang dekat dan terjangkau oleh indra manusia, bukan hal-hal yang abstrak dan jauh dari indra manusia. Namun, sering kali yang dilakukan manusia justru sebaliknya. Banyak manusia yang terlalu terpaku pada teks, tapi lupa pada konteks. Contoh kecil tentang hadis isbal (berpakaian melebihi mata kaki). Secara kontesktual, sebenarnya hadis tentang isbal tersebut berbicara pasal kesombongan sang pemakai pakaian.

Sayangnya, tak sedikit orang kurang memahami hal tersebut. Hal ini lantas menyebabkan kita berlomba-lomba memakai celana cingkrang, tapi di sisi lain tak jarang kita menyalahkan, atau setidaknya merasa paling benar dari orang-orang yang celananya di bawah mata kaki. Tak sedikit pula orang yang dengan serta-merta mengklaim bahwa mereka yang celananya di bawah mata kaki pasti masuk neraka. Bukankah perbuatan tersebut termasuk dalam kategori sombong karena merasa paling benar? Bukankah perbuatan tersebut justru merusak pahala niat baik kita untuk mengikuti sunnah Nabi saw?. Niat baik harus disertai implementasi yang baik pula.

Sementara itu contoh terkait tadabbur pada hal-hal yang dekat bisa kita ditemui dalam pembelajaran kita. Bila kita belajar filsafat, kita akan bertemu dengan istilah ontologi, epistemologi, dan aksiologi. Banyak orang yang nyaring membicarakan dan menggaungkan hal tersebut, tetapi yang disayangkan adalah apabila mereka tak memahami ketiga hal tadi dalam hidup mereka sendiri. 

Oleh sebab itu, saya setuju dengan hadis masyhur di kalangan kaum sufi, “Barangsiapa mengenal dirinya, maka ia akan mengenal Tuhannya". Dari hadis masyhur tersebut kita tahu bahwa untuk memahami sesuatu yang besar (agung), kadang kita cukup memahami sesuatu yang kecil dan nampak sederhana. Pak Fahruddin Faiz pernah menjelaskan bahwa ketika manusia paham, maka manusia akan semakin yakin. Bila kita paham bagaimana rasanya tak dimanusiakan, maka kita akan semakin yakin mengapa kita harus memanusiakan. Semestinya sih begitu.

Post a Comment

0 Comments