Lebaran (Idul Fitri) selalu menyita perhatian kita semua. Maklum! Momen tersebut memang hanya datang setahun sekali dan telah masyhur disebut “Hari Kemenangan”. Berdasarkan beberapa ceramah keagamaan yang pernah saya dengar, di hari Idul Fitri kita (umat Islam) layaknya dilahirkan kembali. Kondisi kita seperti bayi yang baru lahir, suci tanpa dosa sedikit pun. Sepakat atau tidak, nyatanya suasana lebaran memang sangat membahagiakan. Meski demikian, harus tetap diakui bahwa lebaran (mungkin) akan terasa berbeda bagi orang-orang yang telah ditinggal wafat orang tercinta. Bagi mereka, tampaknya lebaran jadi momen yang mengundang isak tangis.
Jika dilihat dari realitas sosial yang ada, saya rasa Idul Fitri bisa dimaknai dengan ‘baru’ (terlepas dari makna Idul Fitri secara harfiah). ‘Baru’ di sini bukan hanya tentang satu hal, melainkan hampir semua hal. Baju baru adalah satu contoh, bila ingin yang lainnya kita bisa melihatnya dari berbagai sisi. Cat rumah yang diperbarui, halaman rumah yang dibersihkan dan dihias sedemikian rupa sehingga tampak baru, penataan ruang tamu yang baru, keadaan meja yang baru. Semua itu menunjukkan bahwa, bagi kita semua, saat Idul Fitri segalanya harus baru―dengan maksud supaya layak dipandang oleh orang banyak. Tampaknya memang begitulah cara kit menyambut (dan memuliakan) tamu, khususnya saat lebaran.
Ketika saya kecil dulu, saya selalu merasa bahwa lebaran selalu dipenuhi senyum dan suasana positif. Namun, belakangan saya sadar bahwa ternyata momen lebaran tak luput dari suasana negatif. Barangkali hal tersebut juga merupakan pengaruh dari era mabar. Kalau ada yang bilang momen lebaran adalah momen perdamaian, rasanya hal itu kurang tepat. Pasalnya, saat lebaran justru ada banyak peperangan yang terjadi secara tersirat. Berikut peperangan-peperangan yang saya maksud.
1. Perang Ucapan dan/atau Desain
Dahulu waktu saya masih duduk di bangku Madrasah Ibtidaiyah, ucapan “Selamat Hari Raya Idul Fitri” hanya muncul di TV, entah itu dari pimpinan partai politik, perwakilan stasiun TV, atau produk makanan dan minuman (misalnya, Marjan). Namun, semua itu berubah sejak media sosial hadir di tengah kehidupan kita yang kala itu sedang gandrung dengan gratisan SMS untuk berbalas dengan ayang. Ketika dijajah oleh media sosial, kita seolah menjadi orang yang tak mau ketinggalan segalanya. Bukan hanya menjadi orang yang tak mau ketinggalan informasi, tapi juga menjadi orang yang enggan ketinggalan tren ucapan.
Diakui atau tidak, kebanyakan dari kita hampir selalu berlomba mengucapkan peringatan hari besar. Namun, bila ditelisik lebih dalam, sebenarnya kurang tepat bila disebut ‘berlomba mengucapkan’. Saya rasa akan lebih tepat bila disebut ‘berlomba siapa yang lebih cepat mengucapkan’. Dengan kata lain, kita sebenarnya bukan sedang mengucapkan selamat pada yang merayakan. Kita justru sedang berebut untuk jadi yang tercepat dalam mengucapkan. Saat jadi yang tercepat, kita merasa puas dan bangga. Sebaliknya, ketika telah ada yang mendahului, semangat kita untuk memberi ucapan selamat jadi turun. Tak berhenti di situ. Dalam memberi ucapan selamat tersebut, kita pun sebenarnya juga berlomba untuk menjadi yang paling bagus dalam segi desain pamflet. Saat melihat orang lain yang desain pamfletnya tidak sebagus milik kita, akan tebersit rasa bangga diri dalam nurani kita. Yah! Begitulah realitanya.
2. Perang Outfit
Baju baru saat lebaran seolah menjadi hal yang wajib bagi kita semua. Meski sudah ada banyak kampanye yang menyebut bahwa hari raya Idul Fitri itu bukan tentang baju baru, nyatanya kita tetap merasa harus memakai baju baru saat Idul Fitri tiba. Fenomena ini rasanya tak dapat diubah dan dihentikan. Sebab, meski ia bukan fenomena yang lahir dari sebuah teks, ia telah dijalankan oleh semua orang sejak dahulu. Selain itu, mungkin ada sebagian orang yang mengkhususkan momen lebaran untuk beli baju baru. Artinya, mereka belum akan beli baju baru jika lebaran masih jauh.
Nah, baju baru ini pasti kita pakai saat hari pertama lebaran. Belakangan saya melihat ketika hari pertama lebaran, timeline media sosial saya dipenuhi oleh orang-orang yang berfoto bersama keluarga. Bumbu caption-nya beragam, tapi semua mengarah pada, “Mohon maaf lahir & batin”. Pertanyaannya, benarkah di sini kita sungguh-sungguh minta maaf melalui foto (dan caption) yang kita post?. Saya rasa tidak. Pasalnya, ada niat yang kita sembunyikan dalam foto tersebut, entah diakui atau tidak. Niat tersembunyi itu adalah perang outfit. Ya! Sebenarnya, melalui foto yang kita post di media sosial tersebut, kita sedang beradu outfit dengan orang lain. Hanya saja banyak dari kita yang enggan mengakuinya. Kita merasa seakan tulus mengucapkan, “Mohon maaf lahir & batin”. Padahal nyatanya kita sedang pamer outfit baru kita di depan publik. “Nggak mau mengakui? Kapan dewasanya kalau kayak gitu?”.
3. Perang Status
Status yang saya maksud di sini bukan ‘status WA viral jedag-jedug’ lho, ya!. Status yang saya maksud di sini adalah status yang mengarah pada pertanyaan “kapan?”. Misalnya, status pernikahan. Bagi yang belum nikah, yang umurnya telah memasuki kepala dua, pasti dapat banyak pertanyaan “kapan nikah?” atau “kapan nyusul?”. Bagi yang masih kuliah, selalu ditanya “kapan lulus?”. Masih banyak lagi contoh semacamnya. Sependek yang saya lihat, ada dua kemungkinan penyebab mengapa ada spesies yang melontarkan pertanyaan seperti itu. Pertama, nggak punya empati; kedua, mencoba merendahkan yang ditanya.
Repot banget menghadapi spesies sejenis itu. Sudah dijawab, muncul pertanyaan atau pernyataan baru yang lebih menyakitkan. Nggak dijawab, malah kita yang dinilai sombong. “Ealah, karepmu wes!”. Cara terbaik untuk menghadapi spesies semacam ini, saya rasa, adalah dengan tidak bertemu dengannya. Hanya saja cara tersebut akan membuat kita terus berada dalam pelarian. Jika tak mau seperti itu, kita harus yakin untuk menghadapi kenyataan. Biar tidak mati kutu saat orang lain menantang perang status, kita harus siapkan dulu status terbaik kita yang tidak dimiliki mereka. Misalnya, punya banyak prestasi. Jika sudah siap, ayo kita menyombongi orang yang sombong dan (mencoba) merendahkan kita!. Terkesan jahat sih, tapi nggak papa daripada mental kita yang kena!.
4. Perang Pekerjaan & Pendapatan
Udah, kalau yang ini nggak usah diladenin. Malah kita sendiri yang capek. Biar saja orang lain mengoceh soal pekerjaan dan pendapatannya. Kita cukup jadi pendengar yang baik.
0 Comments