Ticker

6/recent/ticker-posts

Memaknai Puasa sebagai Momentum Berkontemplasi dan Berdamai dengan Diri Sendiri

 

Unsplash.com

Tentu sudah tak asing di telinga bahwa puasa bukan sekadar ibadah menahan lapar dan dahaga. Esensi dari puasa lebih dalam daripada apa yang terlihat. Dalam salah satu hadis riwayat Imam Ahmad, Nabi saw pernah bersabda.

كَمْ مِنْ صَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ صِيَامِهِ إِلَّا الْجُوعُ

“Banyak orang yang berpuasa, tapi ia tak mendapatkan apa pun dari puasanya selain rasa lapar saja...”. (HR. Ahmad)

 

Para ulama menyebut bahwa orang yang termasuk dalam golongan yang disebut hadis di atas adalah mereka yang sekadar menghindari hal-hal yang membatalkan puasa. Orang-orang tersebut berpuasa tanpa keikhlasan, berpuasa tapi tidak menjaga anggota tubuhnya dari perbuatan maksiat. Apakah kita termasuk yang demikian? Semoga bukan, amiin!.

Bicara soal puasa, pentingkah bagi kita untuk memaknai puasa?. Rasanya hal tersebut sangat perlu. Pasalnya, tanpa dimaknai, puasa kita mungkin saja sekadar menjadi ritual fisik. Sebagai contoh, saat kita sujud dalam salat, apabila kita tak memaknainya sebagai implementasi ketundukan kita (sebagai hamba) pada Allah swt, maka ia hanya akan menjadi ibadah fisik. Selain itu, memaknai puasa (dan ibadah-ibadah lainnya) merupakan bagian dari aktivitas memberdayakan akal, di mana hal ini sangat banyak disinggung dalam al-Qur’an. Lantas, bagaimana sebaiknya kita memaknai puasa?.

Salah satu alternatif yang bisa ditawarkan adalah memaknai puasa sebagai momentum berkontemplasi. Di luar bulan Ramadhan, kita telah disibukkan oleh banyak hal. Pagi bekerja, malam mengistirahatkan diri agar esok pagi kembali bugar. Hal tersebut membuat kita seolah tak memiliki sisa waktu untuk merenung. Lalu bagaimana saat di bulan Ramadhan?. Dilihar dari aktivitas yang dilakukan, sebenarnya tak ada perbedaan. Kita tetap melakukan kegiatan yang sama di bulan Ramadhan. Namun, saat di bulan Ramadhan, kita melakoni rutinitas kita dalam keadaan perut kosong.

Hal itu tentu bukan sesuatu yang berarti di luar bulan Ramadhan. Sebab, kita bisa makan sewaktu-waktu. Tapi di bulan Ramadhan, kita mesti menunggu waktu maghrib. Artinya apa? Pikiran kita mungkin akan sedikit teralihkan dari rutinitas untuk menunggu kapan kapan waktu maghrib tiba. Saat momen seperti inilah kita sebenarnya memiliki ruan untuk berkontemplasi, meski hanya sejenak. Alih-alih terus bertanya kapan waktu maghrib akan tiba, akan lebih baik bila kita melakukan perenungan (utamanya tentang diri kita sendiri). Kita bisa sejenak mengambil napas dalam, memikirkan kebaikan dan keburukan apa yang telah kita lakukan. Dengan begitu, akan sangat mungkin kita menjalani ibadah puasa dengan ketenangan hati.

Alternatif lain yang juga patut ditawarkan adalah memaknai puasa sebagai momentum berdamai dengan diri sendiri. Sebagai makhluk, kita tentu sadar bahwa kita memiliki ‘kelainan’. Tak ada di antara kita yang tercipta dalam kesempurnaan. Akan selalu ada ‘kelainan’ yang menyertai kita, entah disadari atau tidak. Hal ini mungkin akan mendorong kita bertanya, “Mengapa aku diciptakan seperti ini?”. Tak jarang pertanyaan semacam itu membuat kita larut dalam kesedihan atau penolakan. Kita mungkin pernah berusaha sangat keras untuk menutupi ‘kelainan’ kita. Namun, kerap kali hal tersebut hanya berujung lelah.

Lantaran berpuasa―khususnya di bulan Ramadhan―kita mungkin bisa menyisihkan sedikit waktu untuk kembali menanyakan pertanyaan tadi, tentang mengapa kita diciptakan dengan ‘kelainan’. Dalam kondisi perut kosong, tentu kita tak memiliki energi lebih untuk berdebat dan menolak diri sendiri. Dengan demikian, hal yang bisa kita lakukan adalah memahami dan mengambil hikmah atas ‘kelainan’ yang disertakan oleh Allah swt pada kita. Lantas, kita pun akan belajar menerima ‘kelainan’ tersebut dan mengakhiri pertarungan dengan diri sendiri. Barangkali hal itu bukan perkara mudah, tapi tak ada salahnya untuk mencoba.

Mengingat bulan Ramadhan hanya berkisar 29/30 hari, maka akan sangat baik bila kita mengisinya dengan berbagai hal yang bermanfaat. Bukan semata dengan ibadah dalam sisi ritual, tapi juga ibadah dalam sisi sosial, bahkan sisi individual (dalam hal ini yang dimaksud adalah berkontemplasi dan berdamai dengan diri sendiri). Bagaimana pun kita butuh semua itu. Ibadah ritual sebagai implementasi habl min Allah, ibadah sosial sebagai wujud habl min al-naas, dan ibadah individual sebagai upaya agar kita tidak mengalami krisis identitas. Akan menjadi sesuatu yang paradoks apabila kita melakukan sesuatu (khususnya ibadah), tapi di sisi lain kita tak tahu siapa kita sebenarnya, mengapa kita ada, dan untuk apa kita diciptakan.

Pertanyaan-pertanyaan fundamental di atas sangat perlu diketahui jawabannya. Itu bertujuan supaya ibadah kita lebih terarah dan beralasan. Sebenarnya, urgensi berkontempasi dan berdamai dengan diri sendiri ini pernah disinggung oleh Yahya ibn Muadz al-Razi melalui ucapannya.

مَنْ عَرَفَ نَفْسَهُ فَقَدْ عَرَفَ رَبَّه

“Barangsiapa yang mengenal dirinya, sungguh ia telah mengenal Tuhannya”.

 

Dalam kutipan di atas disebutkan dengan jelas bahwa konsekuensi dari mengenal diri sendiri adalah mengenali Allah swt. Saat kita tahu diri kita menua, maka kita akan tahu bahwa Allah swt abadi. Sebab, Allah swt tak akan sama dengan makhluk-Nya. Mungkin seperti itulah gambaran sederhana dari aktivitas mengenal diri sendiri dan Allah swt.

Bagi sebagian besar kita, bulan Ramadhan terasa cukup cepat berlalu. Oleh sebab itu, kita tentu tak ingin menyia-nyiakannya. Tidak seperti bulan lainnya, di bulan Ramadhan rasanya kita punya lebih banyak waktu untuk berkontemplasi sekaligus berdamai dengan diri sendiri. Pertanyaannya, apakah kita berkenan untuk menemukan waktu tersebut?. Sebagai manusia, memikirkan kapan waktu berbuka tiba saat sedang puasa adalah hal yang wajar. Namun, akan menjadi kurang baik jika hal tersebut kita lakukan sepanjang hari. Sebab, ia justru akan membuat perasaan kita gelisah karena waktu berbuka tak kunjung datang. 

Guna meminimalisir hal termaktub―juga supaya perasaan kita jadi tenang―kita bisa menutup mata sejenak, lalu berdialog dengan diri sendiri. Kita bisa mendapatkan banyak hal dari situ. Misalnya, bersyukur atas kelebihan yang telah diberikan oleh Allah swt, mengakui kesalahan yang telah diperbuat dengan sengaja, juga belajar agar tak melewati batas sebagai manusia. Hal-hal semacam itu mungkin sulit kita dapatkan apabila kita terlalu sibuk dengan rutinitas yang kita jalani tiap hari saat tidak berpuasa. Oleh sebab itu, mari kita berupaya untuk tidak menyia-nyiakan puasa kita. Mungkin puasa kita tak sempurna, tapi kita bisa menjadikan puasa kita bermakna. Wallahu A’lam.

Post a Comment

0 Comments