Ticker

6/recent/ticker-posts

Adab Menghormati Guru, Masih Relevankah Hari Ini?

 

Pexels.com

Beberapa waktu yang lalu, publik digegerkan oleh munculnya kabar seorang ‘ustaz/pengasuh pesantren’ yang melakukan hubungan seksual kepada beberapa santriwatinya. Hal itu jelas mengundang kecaman dari berbagai pihak. Bahkan, banyak yang bilang kalau iblis pun sampai sungkem kepada ‘sang ustaz’ lantaran kebejatannya tersebut. Sementara itu, di tempat lain tersiar berita bahwa terdapat seorang dosen yang melakukan pelecehan seksual pada salah seorang mahasiswi. Kasus-kasus pelecehan seksual yang dilakukan oleh mereka yang berstatus sebagai ‘pendidik’ lantas terus bermunculan, bahkan hingga beberapa hari belakangan. Seluruh rentetan kasus termaktub membuat kita geleng-geleng kepala dan bertanya, “Apa yang sedang terjadi pada dunia pendidikan?”.

Banyak yang bilang bahwa dunia pendidikan kita memang punya segudang masalah. Namun, masalah pelecehan seksual yang dilakukan oleh para pendidik ini jelas berbeda. Apa yang saya maksud ‘berbeda’ di sini adalah masalah pelecehan seksual ini harus ditangani sekarang juga, tak boleh menunggu waktu lama apalagi disertai dalih-dalih yang tak masuk nalar. Oke! Saya setuju perbaikan sistem pendidikan itu sangat penting. Pertanyaannya, apa gunanya sistem pendidikan yang bagus tapi tak memberi rasa aman pada para pelajar (khususnya perempuan)?. Alih-alih menjadi tempat untuk berkembang, bukankah pendidikan yang seperti itu justru menawarkan kesan menakutkan?.

Jika kita bicara soal pendidikan Indonesia, sosok Ki Hadjar Dewantara tampaknya tak dapat dipinggirkan. Prinsip dasar yang dicetuskannya masih terus digaungkan hingga kini. “Ing Ngarsa Sun Tuladha; Ing Madya Mangun Karsa; Tut Wuri Handayani”. Kita semua tahu, peran guru terangkum dalam prinsip dasar yang pertama, yakni Ing Ngarsa Sun Tuladha (Di depan menjadi panutan). Dalam hemat saya prinsip ini sangat menarik. Mengapa? Dalam prinsip dasar yang pertama tersebut, Ki Hadjar Dewantara lebih memilih menggunakan diksi ‘menjadi teladan’, alih-alih memakai rangkaian kata ‘mentransfer pengetahuan’. Artinya apa? Ki Hadjar Dewantara sangat sadar bahwa peran guru lebih dari sekadar memberikan pengetahuan bagi para murid. Guru itu ya.....digugu lan ditiru. Secara tidak langsung murid akan menduplikasi setiap gerak-gerik dari gurunya yang ia lihat.

Sejak dahulu, status guru adalah sesuatu yang ‘sakral’. Maksudnya, siapa pun yang menjadi guru akan sangat dihormati. Bahkan, dalam konteks keagamaan selalu ditekankan bahwa siapa saja yang tak menghormati gurunya, maka ilmu yang diperolehnya tak akan bermanfaat. Tak berhenti di situ. Ridha guru juga diakui turut menentukan bagaimana langkah murid di kemudian hari. Jika seorang guru telah ridha, maka jalan yang dilalui murid akan mudah. Berlaku pula sebaliknya. Sementara itu, di sekolah dulu saya sering mendengar bahwa posisi guru layaknya orang tua kedua bagi murid. Jika memang demikian, mestinya seorang guru tak ragu untuk mengambil peran utama orang tua, yakni mengasuh. Namun, bagaimana realita yang tampak di era sekarang?.

Apabila kita menilik kasus-kasus pelecehan seksual yang dilakukan oleh beberapa guru dewasa ini, kita akan melihat sebuah ketimpangan status. Mereka yang menyandang status guru jelas jauh lebih berkuasa daripada para murid. Seandainya para murid enggan memenuhi keinginan sang guru, tentu sang guru akan memanfaatkan kekuasaannya. Guru dapat menyodorkan banyak ancaman, mulai dari ilmu yang tidak bermanfaat, nilai mata pelajaran yang akan dijatuhkan, hingga ancaman untuk tidak meluluskan. Atau bisa jadi sebaliknya, sang guru menawarkan iming-iming yang menggiurkan dan (seolah) menjanjikan jika murid mau memenuhi keinginannya. Saya rasa, orang-orang semacam ini sangat tak layak disebut sebagai guru. Mereka lebih pantas disebut sebagai iblis yang bersembunyi di balik topeng guru.

Murid yang mendapat ancaman pun harus dihadapkan pada pilihan yang dilematis. Jika tak menuruti keinginan sang guru, langkahnya di kampus akan sangat terhambat. Bila menuruti, bagaimana nanti harga dirinya dan keluarganya!?. Bahkan, dalam kasus ini sang murid juga seolah dibungkam secara tidak langsung. Apabila ia speak up, kemungkinan orang yang akan mendengarkan sangat sedikit bila ia tak menunjukkan bukti yang kuat. Sebaliknya, guru punya kesempatan yang lebih besar untuk didengar publik andai kata ia menyatakan bahwa speak up dari sang murid adalah fitnah belaka. Para iblis yang menyamar jadi guru itu sangat diuntungkan di sini. Tak heran bila mereka terus mengulangi perbuatannya, bahkan dengan korban yang berbeda.

Menyaksikan seluruh fenomena di atas, terlintas sebuah pertanyaan besar, masih relevankah adab menghormati guru di era sekarang?. Guna menjawab pertanyaan ini, kita tak lagi bisa memilih antara ‘ya’ dan ‘tidak’. Begini, apabila kita menjawab ‘ya’, muncul lagi sebuah pertanyaan, “Apakah mereka yang memanfaatkan statusnya sebagai guru untuk melakukan pelecehan seksual pada murid adalah orang-orang yang layak dihormati?”. Namun, jika kita menjawab ‘tidak’, muncul juga sebuah pertanyaan, “Lalu bagaimana dengan orang-orang yang tetap ikhlas menjadi guru meski bayaran yang diterimanya tak manusiawi?”. Hah, memang ya! Oknum itu di mana-mana selalu bikin resah dan membuat nama baik orang lain yang seprofesi dengannya jadi tercemar.

Adab menghormati guru hari ini tak dapat kita telan mentah-mentah. Kita harus menghadirkan nalar kritis terhadapnya. Kita wajib menghormati guru yang benar-benar menjalankan perannya sebagai guru, bukan yang menfaatkan status guru demi kepuasan pribadinya. Jika kita tetap menghormati orang-orang yang bersembunyi di balik topeng guru, tentu kebiadaban mereka akan semakin menjadi-jadi. Alih-alih mencerdaskan kehidupan bangsa, orang-orang semacam itu justru bikin malu negara. Selain itu, apa gunanya juga menghormati orang yang memandang rendah para muridnya?. Ingat! Hidup itu hanya sekali. Jangan buang-buang waktu untuk memberi ruang gerak bebas pada para iblis yang tak tahu diri.

Hal lain yang juga patut kita lakukan adalah memberi naungan yang aman pada para korban pelecehan seksual yang dilakukan oleh para ‘oknum’ guru. Jangan sampai mereka merasa sendiri atau merasa tak punya tempat untuk kembali. Kita tahu seperti apa wajah hukum di negeri ini. Tapi, toh sekeras apa pun kita berteriak akan hal tersebut, ‘para penegak hukum’ itu tetap saja menutup telinga. Oke, kita sadar tak bisa berbuat banyak dalam ranah hukum. Namun, kita masih bisa memberikan dukungan mental pada para murid yang menjadi korban agar mereka tetap tegar melanjutkan kehidupan. 

Saya jadi bertanya-tanya, apabila praktik pelecehan seksual yang dilakukan oleh para ‘oknum’ guru ini tetap langgeng, akan jadi apa sekolah nantinya?. Pembelajaran daring mungkin lebih aman, tapi tingkat efektivitasnya bagi para murid sangat rendah. Homeshcooling? Masalahnya, tak semua orang tua punya waktu luang banyak untuk mengajar anak-anaknya. Peran guru pun rasanya tak dapat digantikan oleh Artificial Inteligence. Sebab, AI tak memiliki jiwa layaknya manusia. Sementara, proses pembelajaran itu perlu adanya momen sentuhan rasa (batin) antara murid dengan guru. Hah, entahlah! Saya hanya bisa berdoa semoga tak ada lagi iblis-iblis yang bersembunyi di balik topeng guru.

Post a Comment

0 Comments