![]() |
| Pexels.com |
Mendengar kata ekstremisme-radikalisme, pikiran kita akan membayangkan banyak hal negatif―bahkan cenderung menakutkan. Mulai dari takfiri hingga aktivitas bom bunuh diri. Memang benar, baik esktremisme maupun radikalisme secara harfiah tidak mengarah pada aksi teror. Namun, mayoritas orang kerap mengidentikkan ekstremisme-radikalisme dengan terorisme. Penyebab dari hal tersebut, saya rasa, adalah terorisme itu sendiri berakar dari ekstemisme-radikalisme. Jika diperhatikan, tampaknya aksi bom bunuh diri atas nama agama tidak akan muncul apabila pelaku tidak memiliki sikap yang berlebih-lebihan dalam beragama. Kerap kali pelaku terorisme memandang korbannya sebagai musuh besar Islam yang wajib dibunuh. Paham seperti ini jelas sangat kontradiktif dengan misi utama diutusnya Rasulullah saw, yakni menyempurnakan akhlak yang baik.
Pertanyaannya sekarang, tindakan seperti apa yang dapat dikategorikan sebagai ekstemisme dalam beragama?. Apakah perempuan yang bercadar dan laki-laki yang memakai gamis merupakan orang-orang yang ekstrem dalam beragama?. Saya rasa kita tak bisa mengambil kesimpulan sesederhana itu. Pasalnya, cadar dan gamis adalah busana, atribut beragama. Mereka yang memaki cadar atau gamis sebenarnya sedang mengekspresikan model keberagamaan mereka. Hal ini sama seperti orang-orang yang lebih memilih memakai sarung dalam beragama. Artinya, orang yang bercadar/gamis tidak bisa kita generalisasi sebagai orang yang ekstrem dalam beragama. Namun, apabila ada yang menjadikan cadar/gamis sebagai standar kesalehan, memandang bahwa orang-orang yang tidak bercadar atau tidak memakai gamis Islamnya belum sempurna, dalam hemat saya orang tersebut telah terjatuh dalam ekstremisme. Berlaku pula pada orang yang bersarung apabila ia memiliki sikap yang sama.
Kita tahu bahwa narasi maupun perilaku ekstrem mesti dibendung supaya masyarakat tidak terjangkit olehnya. Hal paling sederhana yang bisa kita lakukan adalah menghadirkan narasi-narasi moderat di depan publik. Itu sikap kita terhadap perbuatan golongan ekstremis. Lantas, bagaimana dengan sikap kita terhadap orang-orang yang terpapar ekstremisme-radikalisme?. Kita memang wajib mengecam perbuatan mereka, apakah kita juga bisa melakukan hal yang sama terhadap orang-orangnya?. Saya sendiri berpandangan bahwa seyogianya kita tidak terburu-buru memberikan kecaman pada orang-orang yang terpapar ekstremisme-radikalisme sebelum mengetahui latar belakangnya. Tidak semua orang yang merapat ke golongan ekstremis didorong oleh kehendak hatinya sendiri. Ada beberapa faktor lain yang membuat mereka tidak sengaja terjatuh dalam jurang ekstremisme-radikalisme, sebagai berikut.
1. Faktor Ekonomi
Dalam kitab Syu’ab al-Iman, Imam al-Baihaqi meriwayatkan sebuah hadis dari jalur Anas ibn Malik ra, hadisnya yakni.
قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: كَادَ الْفَقْرُ أَنْ يَكُونَ كُفْرًا
Rasulullah saw bersabda: “Kemiskinan itu dekat kepada kekufuran...”
Melalui kandungan eksplisit hadis tersebut kita dapat memahami bahwa kemiskinan adalah sesuatu yang tidak bisa dipandang sebelah mata. Sebab, ia berpotensi mendorong manusia pada kekufuran. Realitanya memang demikian. Orang-orang yang tingkat ekonominya berada di level menengah ke bawah akan mudah terpengaruh oleh iming-iming harta. Alasannya jelas, mereka tidak ingin dirinya (atau pun keluarganya) menderita kelaparan. Celah ini ternyata disadari oleh kelompok ekstremis-radikalis. Mereka lantas mengajak orang-orang yang lemah secara ekonomi untuk bergabung dengan mereka. Jika orang-orang ini ma bergabung, nantinya keluarga mereka akan diberi subsidi bulanan dari kelompok ekstremis-radikalis. Hal seperti itu benar adanya, hanya saja mungkin sangat sedikit yang menyadarinya.
2. Faktor Psikologis
Kondisi kejiwaan manusia menjadi salah satu penentu terbesar dalam pengambilan tindakan. Kita ambil contoh orang yang baru saja patah hati. Saat ia mengendarai sepeda motor, kondisi kejiwaannya sangat mungkin mendorongnya untuk menambah kecepatan tanpa peduli risiko yang akan diterima. Hal semacam ini juga terjadi dalam konteks orang-orang yang terpapar ekstremisme-radikalisme. Beberapa waktu yang lalu saya mendapat kesempatan untuk berbincang dengan salah seorang mantan napiter melalui program Voice of Moderation. Mantan napiter tersebut bercerita tentang awal mula dirinya bergabung dengan kelompok ekstremis-radikalis. Sebelumnya, beliau (mantan napiter) telah kehilangan 3 anggota keluarga dalam waktu kurang dari 2 bulan. Peristiwa itu jelas memengaruhi kondisi psikologis beliau. Saat mental beliau sedang terjatuh itu, ada yang mengajak untuk menghadiri majelis ilmu kelompok ekstremis-radikalis. Namun, sang mantan napiter ini kala itu belum menyadarinya. Akhirnya, tanpa sengaja, karena rutin diajak menghadiri majelis ilmu tersebut, sang mantan napiter itu pun terpengaruh oleh paham ekstremisme-radikalisme.
3. Faktor Lingkungan
Saat seseorang hidup di lingkungan yang tidak hadir di dalamnya ustaz/ustazah/pemuka agama, ia akan mencari sendiri guru agama di media sosial. Hal tersebut tak menutup kemungkinan membuatnya condong pada orang-orang yang menebar narasi ekstrem-radikal. Penyebab utamanya adalah orang tersebut tak memiliki fondasi paham keagamaan yang kuat. Ia lebih memilih ustaz/ustazah di media sosial yang memaknai teks keagamaan secara apa adanya. Baginya hal itu lebih mudah dicerna daripada pemahaman kontekstual yang ditawarkan oleh ustaz/ustazah lain. Jika ini terus berulang dan tetap tidak ada orang yang memberikan arahan untuk memilih guru yang tepat, tentu saja orang tersebut akan menjadi ekstremis-radikalis.
Melihat 3 faktor di atas, kita tentu tidak bisa menghakimi secara sepihak pada orang-orang yang (tanpa sengaja) terpapar ekstremisme-radikalisme. Seperti yang telah dipaparkan di awal, kita wajib mengutuk perbuatannya, tapi kita tak boleh terburu-buru mengutuk orangnya sebelum mengetahui latar belakangnya. Saya sadar hal itu memang tidak mudah dipraktikkan karena pikiran kita sulit memisahkan antara perbuatan dengan pelaku. Lantas, adakah solusi dari kompleksnya problematika ini?.
Saya sendiri menawarkan 2 hal di sini. Pertama, kita tidak mengklaim bahwa pintu taubat telah tertutup bagi mereka. Orang-orang yang telah terpapar ekstremisme-radikalisme sangat mungkin bertemu dengan momen di mana mereka sadar bahwa jalan yang mereka tempuh ternyata salah. Ketika hal itu terjadi, jangan sampai kita memvonis bahwa upaya mereka kembali ke jalan moderat adalah hal yang sia-sia. Sebab, hal itu justru akan membuat mereka kembali bergabung dengan kelompok ekstremis-radikalis. Kedua, menghadirkan empati terutama saat kita telah mengetahui penyebab mereka terpapar ekstremisme-radikalisme. Hal ini, saya rasa, akan memiliki dampak yang cukup signifikan terhadap proses reintegrasi yang mereka lalui. Wallahu A’lam.

0 Comments