Ticker

6/recent/ticker-posts

Pelecehan Seksual, LGBT, dan Masa Depan yang Runyam untuk Dibayangkan

Pexels.com

 

Tidak semua masyarakat Indonesia berpandangan bahwa membicarakan seks adalah sesuatu yang biasa, bahkan sangat penting. Sebagian masih menganggap bahwa seks adalah tema yang tabu untuk diperbincangkan. Ada banyak faktor yang melatarbelakanginya. Misalnya, seks selalu dibenturkan dengan agama (terutama dalam ranah hukum). Hal ini membuat orang yang ketika mendengar kata ‘seks’, di kepalanya langsung terbayang perbuatan dosa. Saya sama sekali tak bermaksud menafikan peran agama dalam mengulas soal seks. Justru, agama sangat perlu membicarakannya. Hanya saja, dalam konteks ini, sudut pandang yang paling dominan digunakan adalah sudut pandang ‘larangan/dosa’ dan cenderung male-centred. Seyogianya seks juga dipandang sebagai fitrah manusiawi, bukan malah memberikan cap negatif terhadapnya sebagai nafsu hewani.

Selain perkara di atas, penyebab lainnya adalah seks sangat minim diperbincangkan di sekolah. Dahulu, semasa saya sekolah, perbincangan soal seks seolah hanya seputar pergaulan bebas―yang nantinya berujung pada pembahasan HIV/AIDS. Sekali lagi, saya rasa hal ini akan membuat kita berpikir bahwa seks hanya akan menimbulkan hal-hal buruk. Oleh sebab itu, kita lantas merasa bahwa lebih baik kita pergi sejauh-jauhnya dari seks dan tak membahasnya sama sekali. Oke! Barangkali kurikulum soal seks tersebut disesuaikan dengan kondisi kala itu. Kini kita menghadapi problematika yang kian kompleks, apakah kurikulum soal seks di sekolah tetap dibiarkan berkutat pada ranah pergaulan bebas saja?.

Seperti yang kita tahu, beranda media sosial kita belakangan dipenuhi oleh kabar tentang kasus pelecehan seksual di berbagai tempat. Mulai dari transportasi umum, sekolah, hingga pesantren. Pelakunya pun beragam, ada yang dari kalangan orang awam, ada juga yang menyandang status sosial khusus di masyarakat. Mirisnya, para korban dari kasus-kasus pelecehan seksual tersebut tak ada yang mendapat perlindungan/pembelaan. Jika pun ada, jumlahnya terlampau sedikit. Bertolak belakang dengan para pelaku, mereka justru dibiarkan, dianggap mendapat fitnah, dilindungi. Para pelaku bahkan mampu (dan tak segan) untuk mengancam atau melakukan kekerasan pada siapa saja yang berani membuka tabir kebejatannya. Bagaimana? Tak mampu menelan ironi semacam ini? Sama, saya juga.

Saya yakin di luar sana masih ada banyak kasus pelecehan seksual yang belum muncul ke permukaan. Penyebab terbesarnya adalah ketakutan korban untuk lantang melaporkan apa yang telah terjadi pada dirinya. Ketakutan itu muncul (salah satunya) karena ya.....kita tahulah seperti apa reaksi dari ‘idamanmu’ saat mendapat laporan jika tak disertai ‘angpau lebaran’. Alih-alih segera mengusut kasus pelecehan seksual, yang terjadi justru korban dimintai bukti yang kuat hingga disuruh tes kebohongan. Hesh! ‘Idamanmu’ itu tak pernah sat-set-sat-set, kecuali jika viral. Hal semacam ini, saya rasa, akan membuat korban merasa―secara tidak langsung―dibungkam dan ditundukkan.

Sekolah pun mestinya tak tinggal diam. Jangan sampai sekolah hanya mengajarkan tentang  pergaulan bebas. Kini sekolah harus mulai memasukkan materi tentang pelecehan seksual dalam kurikulum. Materi ini bukan hanya berisi tentang cerita-cerita dari kasus pelecehan seksual dan jenis-jenis pelecehan seksual. Lebih jauh dari itu, dalam materi ini juga harus dijelaskan tentang apa yang harus dilakukan jika murid menjadi korban pelecehan seksual dan ke mana mesti melaporkannya. Menurut saya ini bisa menjadi langkah awal bagi sekolah untuk melindungi para murid dari kejahatan pelecehan seksual. Namun, masalahnya sekarang adalah di beberapa sekolah (juga perguruan tinggi) terdapat kasus pelecehan seksual―sebagian besar malah dilakukan oleh guru/dosen. Lantas, bagaimana sekolah bisa melindungi jika di dalamnya kejahatan justru terjadi?. Hah! Runyam sekali.

Selain pelecehan seksual, hal lain yang juga banyak bermunculan ke permukaan belakangan ini adalah LGBT. Entahlah! Saya pun heran mengapa LGBT banyak diselipkan dalam berbagai media, salah satunya adalah film. Nah, yang paling janggal menurut saya adalah mengapa mesti pelangi yang mereka gunakan sebagai simbol!?. Padahal, dahulu waktu saya kecil apabila mendengar kata ‘pelangi’, tentu yang terbayang adalah fenomena alam yang sangat menawan, yang selalu saya dan teman-teman cari kala hujan reda. Tapi sekarang sangat berbeda. Kata ‘pelangi’ kini justru membawa kesan yang ya.....begitulah!. Saya jadi tak tega dengan anak-anak sekarang. Mereka tak dapat menangkap kesan keindahan pelangi secara penuh, bukan hanya dari apa yang dilihat mata melainkan juga tentang momen yang dirasa.

Bila kita melihat film-film MCU belakangan, kita kerap melihat unsur LGBT diselipkan. Mulai dari Phastos dalam film Eternals, orang tua America Chavez dalam Doctor Strange in the Multiverse of Madness, hingga yang terbaru yakni Korg dalam Thor: Love and Thunder. Padahal film-film MCU itu rating-nya PG-13, ditujukan untuk penonton anak-anak dan remaja. Tapi mengapa mereka menyisipkan unsur LGBT di dalamnya, ya?. Benarkah itu untuk sekadar menjangkau penonton dari kalangan LGBT?. Entahlah! Yang jelas, menurut saya unsur-unsur LGBT dalam film ini merupakan sesuatu yang tak baik bagi anak-anak (khususnya di Indonesia). Di sekolah murid diajarkan bahwa praktik homoseksual adalah sesuatu yang dilarang dan dikecam oleh Tuhan. Lah, di film malah seolah ditunjukkan bahwa homoseksual itu boleh dan merupakan bagian dari kodrat manusia. “Aku bingung harus bagaimana?.....Aku bingung pilih yang mana? Pilih yang mana?”.

Menyaksikan kasus pelecehan seksual yang tak berhenti bermunculan, juga unsur LGBT yang banyak diselipkan dalam film (bahkan film untuk usia anak-anak), rasanya masa depan kian runyam untuk dibayangkan dan diperbincangkan. Belakangan saya kerap bertanya, apakah di masa depan nanti kita akan kesulitan mencari tempat yang aman, khususnya lagi bagi anak-anak dan perempuan?. Apakah nanti saat kita menjadi orang tua, kita harus terus-terusan dihantui oleh rasa takut terhadap dunia luar yang semakin sesak oleh kejahatan?. Anak-anak akan sulit berkembang jika hanya berada di dalam rumah, tetapi apabila mereka keluar ada banyak mata tak baik mengintai mereka. Benarkah masa depan semenakutkan itu?.

Selama ini, pembahasan tentang masa depan kebanyakan seputar perkembangan teknologi atau pergeseran kecenderungan hidup manusia (yang mulanya di dunia nyata, beralih lebih banyak ke dunia maya). Kini kita harus membuka mata lebih lebar lagi. Kasus-kasus pelecehan seksual dan unsur LGBT tak akan berhenti begitu saja di era ini. Oleh sebab itu, kita harus, mulai melihatnya dengan kacamata masa depan. Namun, perlu dicatat bahwa kita tak boleh melihatnya terlalu jauh. Sehingga membuat kita berpikir bahwa ini merupakan akhir zaman dan tak ada lagi yang bisa dilakukan. Tidak, jangan seperti itu!. Jika pun semua ini merupakan tanda akhir zaman, tak seyogianya kita menjadi bagian dari kaum fatalisme. Kita mesti melakukan sesuatu, meski itu kecil. Dengan begitu, setidaknya kita telah berupaya untuk membangun dunia yang aman bagi anak-anak kita, bukan malah membiarkan mereka menghadapi dunia yang penuh kejahatan sendirian.

Post a Comment

0 Comments