Ticker

6/recent/ticker-posts

“Kota Mati”: Menjawab Teka-teki tapi Tak Seemosional “Tak Ada yang Abadi”

Instagram.com/noah_site

Saat ini penikmat band rasanya semakin berkurang jumlahnya. Justru, orang-orang yang meng-cover lagu orang lain mempunyai banyak peminat. Misalnya, Tri Suaka dan Zinidin Zidan. Lihat saja berapa jumlah subscriber pada channel YouTube mereka masing-masing! Sudah mencapai angka jutaan. Memang benar mereka memiliki beberapa lagu ciptaan sendiri. Namun, hal tersebut tak menutup fakta bahwa mereka telah meng-cover lagu musisi lain―yang mungkin belum mendapat izin resmi dari sang pencipta lagu. Tentu masih ada banyak penyanyi cover selain Tri Suaka dan Zinidin Zidan. Hanya saja mereka tak tersorot lantaran tidak mencari masalah secara sengaja.

Selain penyanyi cover, hal yang juga digandrungi di dunia musik hari ini adalah genre koplo. Bukan hanya rakyat yang menikmati, wakil rakyat pun serentak bergoyang di hari kemerdekaan lantaran Farel menyanyikan lagu “Ojo Dibanding-bandingke” di hadapan mereka. Selepas peristiwa itu, hampir di semua tempat yang saya lewati selalu terdengar musik koplo, terutama lagu “Ojo Dibanding-bandingke” dengan vokal Farel. Euforia ini ternyata tak selalu membawa bahagia, di suatu tempat hal tersebut malah memanggil petaka. Ya! Seperti yang telah kita saksikan, sejumlah mahasiswa di salah satu kampus Islam negeri berjoget di bangunan yang akan difungsikan sebagai tempat ibadah dengan iringan lagu “Ojo Dibanding-bandingke”. Hadeh, piye iki? Mumet! Hadeh, mumet! Piye iki?.

Fenomena di atas seolah mengindikasikan bahwa band mengalami disrupsi oleh pihak lain (dalam hal ini penyanyi cover dan musik koplo). Kendati demikian, beberapa band menolak untuk mati dengan tetap berkarya. Dan, NOAH adalah salah satunya. Sejak perilisan proyek “second chance” yang dimulai pada bulan Desember 2021 lalu, NOAH membuktikan bahwa eksistensi band di Indonesia masih ada. NOAH tak hanya memoles ulang lagu-lagu lama, melainkan juga beberapa MV (music video)-nya. MV dari lagu “Yang Terdalam”, “Bintang di Surga”, dan “Menghapus Jejakmu” selalu berhasil menempati #1 trending untuk kategori musik di YouTube. Tak berhenti di situ, beberapa bulan setelahnya, NOAH juga membuat ulang MV “Di Atas Normal”. Jika 3 lagu yang telah disebut sebelumnya menggunakan konsep peremajaan, MV “Di Atas Normal” justru menggaet para komedian untuk menjadi talent utamanya.

Tak berselang lama setelah perilisan MV “Di Atas Normal”, NOAH baru-baru ini kembali berkarya dengan kehadiran MV “Kota Mati”. Lagu “Kota Mati” termasuk lagu yang sangat jarang dibawakan saat konser. Selain menyimpan kesan muram, lirik dari “Kota Mati” sendiri juga multiinterpretatif. Lagu ini seolah membebaskan pendengar untuk menafsirkan sesuai dengan pengalaman dan referensi masing-masing. Saat pandemi Covid-19 melanda, banyak yang berpendapat bahwa lagu “Kota Mati” memiliki keterkaitan dengan hal tersebut. Ia (lagu “Kota Mati”) bercerita tentang sebuah kota yang dihantam pandemi. Ariel sendiri di kemudian hari mengungkapkan bahwa lagu “Kota Mati” sebenarnya bukan bercerita tentang itu. Menurut Ariel, lagu tersebut bercerita tentang sebuah kota di mana seseorang kehilangan orang yang dicintainya untuk selamanya. Lantas, bagaimana dengan MV-nya?.

Konsep dari MV “Kota Mati” sendiri adalah prekuel. Ini jelas berbeda dengan 4 MV sebelumnya yang lebih memilih untuk membuat ulang MV terdahulu. Cerita sambungan dari “Kota Mati” berada dalam MV “Tak Ada yang Abadi”. Mengingat konsep yang dipakai adalah prekuel, tentu tokoh utamanya harus sama. Dalam MV “Tak Ada yang Abadi”, tokoh utama diperankan oleh Ladya Cheryl. Masalahnya, Ladya saat ini tengah berada di Amerika Serikat. Lalu bagaimana kelanjutan penggarapan MV “Kota Mati”? Tentu Ladya butuh pemeran pengganti. Peran Ladya kini diisi oleh Violla Georgie, yang mana dalam MV ini ia harus mengenakan pakaian yang sama dengan yang dikenakan Ladya di MV “Tak Ada yang Abadi”. Pertayaanya sekarang, bagaimana dengan wajahnya?.

Sebelumnya kita ulik dulu siapa sutradara dari MV “Kota Mati”. Upie Guava kembali ditunjuk untuk menjadi sutradara. Sama seperti dalam MV “Bintang di Surga” dan “Di Atas Normal”, dalam penggarapan MV “Kota Mati” Upie juga mengandalkan high technology. Guna menjadikan wajah Violla Georgie mirip Ladya, Upie menggunakan teknologi deep fake, mesh tracking, dan XR virtual production. Selain untuk mengubah wajah, seluruh teknologi tersebut juga bertujuan untuk membantu menghadirkan kesan yang sama seperti tahun 2008 (tahun rilisnya MV “Tak Ada yang Abadi”). Hingga tulisan ini dibuat, MV “Kota Mati” telah menduduki #4 trending di YouTube untuk kategori musik.

Saya sebenarnya sudah cukup lama menerka dan bertanya tentang apa maksud dari MV “Tak Ada yang Abadi”. Berkali-kali saya menonton, tapi kesan misteriusnya tak juga hilang. Hingga akhirnya beberapa hari kemarin NOAH memposting kisi-kisi dari MV terbaru mereka, di mana kisi-kisi tersebut menyinggung isi dari MV “Tak Ada yang Abadi”. Rasa penasaran saya pun mulai menemui titik terang. Mulanya saya berprasangka bahwa NOAH akan merilis remake MV “Tak Ada yang Abadi”, tapi dengan cerita yang berbeda. Ternyata saat perilisan, lagu “Kota Mati”-lah yang dibuatkan MV. Melalui MV “Kota Mati” ini akhirnya rasa penasaran saya terjawab. Alasan sosok perempuan menembak semua orang yang masih hidup adalah bisikan perintah yang datang dari Ariel khayalan yang ada di kepalanya. Sungguh, alasan yang sangat tak terduga.

Tentu harus diapresiasi upaya dari Upie Guava dalam menghadirkan kesan tahun 2008 di masa sekarang. Namun, di sisi lain saya merasa ada beberapa hal yang ‘kurang’ dari MV “Kota Mati”. Misalnya, porsi untuk Lukman dan David yang benar-benar minim. Bahkan, bisa dikatakan apabila mereka berdua tidak hadir di MV, itu tidak akan memberi dampak yang berarti. Berbeda dengan MV “Tak Ada yang Abadi”, saya rasa di sana personel lain masih mendapat porsi yang lebih cukup daripada di “Kota Mati”. Memang benar, sentral cerita dalam MV “Kota Mati” adalah Ladya dan Ariel. Hanya saja, mengapa dalam adegan konser pun porsi Lukman dan David seolah dipangkas besar-besaran?. 

Bicara soal scene konser, jika boleh berpendapat, scene tersebut rasanya agak hampa (terutama bagian di mana Ariel hanya menunduk bernyanyi). Lagu “Kota Mati” memang tidak memiliki instrumen yang mengundang penonton untuk lompat-lompat, tapi bukan berarti Ariel harus menyanyikannya dengan terus menundukkan kepala. Bisa saja Ariel bernyanyi sambil menatap penonton dengan mata terpejam sebagai indikasi ia sedang meresapi makna lagu. Lalu, pengunaan background virtual dalam adegan di mana seolah personel NOAH sedang berada di rooftop. Saya rasa hal tersebut justru menghilangkan kesan natural, sehingga penonton kurang bisa menangkap emosi dari lagunya. Lain halnya dengan MV “Tak Ada yang Abadi”, di mana adegan rooftop memang diambil di luar ruangan dengan background pemandangan yang nyata. Mungkin kesan muram dan misterius dari lagu “Kota Mati” akan lebih terasa apabila penggunaan high technology sedikit dikurangi dalam pembuatan MV-nya.

Post a Comment

0 Comments