Ticker

6/recent/ticker-posts

Masih Pentingkah Membaca Ketika AI dapat Menjawab Segalanya?

 

Unsplash.com/Growtika

Kehadiran ChatGPT berhasil mengubah perspektif banyak orang. Dulu, hampir semua dari kita merasa bahwa soal Matematika tampak susah dituntaskan. Pun demikian dengan menulis artikel ilmiah maupun skripsi. Namun, semua itu tak lagi berlaku ketika ChatGPT ada di hadapan kita. Lantaran ChatGPT, kita dapat menyelesaikan PR Matematika, melanjutkan penulisan skripsi meski sedang buntu, menerjemahkan bahasa asing; pokoknya kita akan merasa sebagai insan yang serba bisa.

Dahulu saat saya masih remaja, saya sangat terpukau dengan adanya mesin pencari Google. Kini, ketika ChatGPT hadir, Google terasa sedikit usang. Bagaimana tidak!? Saat kita memberi pertanyaan pada ChatGPT, ia akan menyajikan jawaban pada kita sudah dalam bentuk konklusi. Lain halnya dengan Google, di mana kita masih harus menyimpulkan sendiri jawaban yang kita inginkan. Adanya ChatGPT ini telah menyadarkan saya bahwa dunia ternyata sudah berkembang sangat jauh dan begitu cepat.

Kendati ChatGPT berhasil memudahkan hidup kita, tapi tampaknya timbul masalah baru. Saat informasi dulu sulit diakses, kita mengerahkan tenaga ekstra untuk mendapatkannya. Membeli koran, berkunjung ke perpustakaan, hingga meminjam buku teman; kita tidak keberatan melakoni semua itu demi memperoleh informasi yang kita butuhkan. Namun, semua itu kini terkesan kuno. Alih-alih membaca satu buku penuh, banyak dari kita sekarang lebih memilih mencari informasi sepotong di internet. AI—dalam hal ini ChatGPT—kian “menyederhanakan” perkara ini. Kita tidak perlu lagi mencari informasi. Kita hanya cukup menyodorkan pertanyaan dan informasi yang kita butuhkan akan menghampiri kita.

Pertanyaannya sekarang, apakah aktivitas membaca masih penting dilakukan di era kecerdasan buatan sekarang?. Tentu saja jawabannya, “Iya”. Mungkin sebagian dari kita ada yang berpikir, “Memangnya apa pentingnya membaca saat ini!? Membaca atau pun tidak, sama saja; sama-sama tetap tanya ChatGPT kalau tak tahu sesuatu”. Oke! Silakan jika memang punya pendapat demikian. Namun, ada yang perlu dicatat di sini. Aktivitas membaca bukan sekadar untuk mendapat informasi. Tujuan dari membaca lebih dari itu.

Begini. Kita telah mafhum bahwa kita sekarang berada di era post truth. Kamus Oxford mendefinisikan post truth sebagai kondisi dimana fakta tidak terlalu berpengaruh terhadap pembentukan opini masyarakat dibandingkan emosi dan keyakinan personal. Jadi, emosi kita selaku netizen dipermainkan sedemikian rupa oleh beberapa pihak sehingga kebohongan tampak seperti kebenaran di mata kita. Hal ini dikutip dari djkn.kemenkeu.go.id. Dengan begitu, tak heran bila kita semua kerap kesulitan membedakan mana hoaks dan mana fakta.

Nah, di titik inilah aktivitas membaca sangat dibutuhkan. Andai kita sangat jarang membaca, kita akan begitu saja menelan informasi yang lewat di depan kita. Aktivitas membaca dapat memitigasi perkara termaktub. Jika kita cukup banyak membaca, akan terjadi rentetan proses pencernaan sebelum kita memutuskan untuk menerima atau menolak informasi yang kita lihat. Sebuah artikel jurnal yang berjudul, “Peran Membaca dalam Meningkatkan Kemampuan Berpikir Kritis di Kalangan Mahasiswa”, memaparkan bahwa konsekuensi dari kegiatan membaca adalah peningkatan daya kritis pemikiran.

Jurnal tersebut lalu menguraikan bahwa pikiran yang kritis dapat membantu individu dalam menganalisis informasi, mengambil kesimpulan, dan menciptakan solusi atas problematika yang ada. Sayangnya, tak sedikit orang yang justru memandang sebelah mata urgensi pemikiran kritis ini. Mungkin mereka memang tak sempat. Pasalnya, transisi arus informasi sekarang berjalan terlampau cepat. Jangankan mengkritisi, membaca informasi yang ada secara utuh itu sudah untung-untungan. Kendati begitu, kita tidak semestinya ikut menjadi kaum yang tak mengindahkan pentingnya kritisisme.

Saya sangat sepakat bahwa dalam menyimpulkan jawaban, AI punya kemampuan yang jauh lebih cepat daripada manusia. Pertanyaannya, haruskah kita saat ini lebih banyak berkiblat pada AI?. Tidak, jangan!. AI cukup menjadi alat bantu bagi kita. Jangan jadikan ia kiblat pengetahuan. AI itu sekadar alat. Kita belum bisa mengetahui secara pasti apa yang dapat dilakukan AI lebih jauh lagi. Tak menutup kemungkinan AI digunakan oleh sebagian pihak untuk memproduksi hoaks. Jadi, kita pun masih harus berhati-hati dalam menghadapi AI.

Lagi pula, penggunaan AI pun harus dibarengi dengan pengetahuan yang cukup. Begini! Saat kita hendak menulis prompt, tak mungkin kita sekadar menggunakan kepala kosong. Kita mesti memiliki kreativitas untuk mengolah informasi dalam kepala kita menjadi prompt, sehingga nantinya AI dapat bekerja sesuai yang kita inginkan. Andai kita asal-asalan dalam membuat prompt, maka kerja AI pun tak akan maksimal. Lalu, dari mana kita bisa membuat prompt yang “sesuai”?. Tentu saja, perbanyak membaca.

 Aktivitas membaca di era yang semakin materialistis ini tampaknya “tak seksi” sama sekali. Banyak orang berpandangan bahwa membaca itu buang-buang waktu, mending digunakan untuk yang lain. Namun, di sini kita lupa bahwa membaca merupakan salah satu hal esensial dalam Islam. Tak perlu saya terangkan lebih jauh, kita semua telah mafhum bahwa ini berkaitan dengan wahyu yang pertama diterima Rasulullah saw. Jadi, pada intinya, aktivitas membaca tetap penting dilakukan di era yang secanggih apa pun. Selain meneladani semangat wahyu pertama, membaca juga akan memudahkan kita dalam memitigasi banyak risiko.

Post a Comment

0 Comments