Ticker

6/recent/ticker-posts

Hoaks Politik, Fanatisme, Perpecahan: Sebuah Ironi yang Tak Terhindarkan

 

Unsplash.com/Hartono

Gelaran pemilu di tingkat KPPS telah usai. Kini, masyarakat tinggal menunggu hasil final penghitungan. Yah! Sebagaimana yang biasa terjadi dalam pemilu-pemilu sebelumnya, pihak yang (tampak) kalah berupaya keras menggugat, sementara pihak yang (tampak) menang sedang sibuk menyusun draf susunan kabinet. Namun, realitas yang lebih kompleks justru terjadi di luar dikotomi tersebut—tepatnya ia terjadi di kalangan akar rumput. Saling ngerasani, gelut, hingga ancaman pembunuhan, semua ada di lapisan masyarakat paling bawah. Setidaknya ada 2 penyebab mengapa perkara-perkara semacam itu bisa terjadi di masyarakat.

Pertama, hoaks politik. Sebelum, saat, dan sesudah pemilu, arus penyebaran hoaks tentang politik memang tak terbendung. Bagaimana tidak!? Lha wong para politikus itu memang menyewa buzzerRp untuk memoles secantik mungkin citra diri mereka sendiri dan menghancurkan profil lawan. Tiap hari konten hoaks diproduksi dan didistribusi. Tak heran bila setiap membuka media sosial, kita hampir pasti menemukan konten berbau politik. Parahnya lagi, kolom komentar konten-konten tersebut sesak oleh perdebatan dan olok-olokan.

Yah.....memang begitulah tugas buzzerRp dan fungsi hoaks; menggiring opini publik, memancing emosi netizen. Sejujurnya, sangat menyebalkan menyaksikan para buzzerRp bertingkah. Namun apa daya, mereka sudah kadung memegang teguh filosofi “Mati satu, tumbuh seribu”. Ketika ada satu akun buzzerRp yang di-banned, akan muncul akun-akun baru yang menggantikannya. Pertumbuhan para buzzerRp ini saya rasa tak akan pernah terhenti bila akarnya malah dirawat seperti anak sendiri. Memangnya apa akarnya? Tentu saja, pendanaan.

Tampaknya terlalu utopis bila saya mengkhawatirkan penghapusan dana untuk buzzerRP. Keberadaan buzzerRp seolah sudah menjadi bagian dari hukum alam perpolitikan hari ini. Hoaks politik di pemilu-pemilu berikutnya akan terus ada. Sisanya, kembali ke diri kita masing-masing; tetap percaya hoaks yang diproduksi oleh buzzerRp atau beralih ke media yang terjaga kredibilitasnya. Tapi, apakah masih ada media yang tidak memihak salah satu elite politik? Bukannya tradisi membeli media oleh elite politik sudah terjadi sejak dahulu, ya?. Lantas, ke mana rakyat harus menaruh rasa percaya untuk mencari berita?.

Kedua, fanatisme. Mari kita tengok beberapa hari ke belakang!. Hasil pemilu 2024 belum dilakukan finalisasi, tapi sudah banyak individu bermunculan yang berteriak keras bahwa mestinya calon pilihannya yang menang. Sering kali saya merasa miris dengan hal-hal seperti itu. Memang benar, melempar protes di negara yang (katanya) demokratis ini diperbolehkan. Namun perlu ditanyakan kembali, protes tersebut dilontarkan demi kemaslahatan rakyat atau demi kepentingan personal?. Dalam konteks ini, saya kira kita semua telah mafhum bahwa protes dari individu-individu tadi bertujuan supaya mereka dapat “imbalan” dari calon yang mereka dukung.

Perkara yang sangat disayangkan adalah individu-individu tersebut seolah enggan mengakui bahwa fanatisme yang mereka kerahkan itu tak ada artinya sama sekali di hadapan calon yang mereka dukung. “Jika menang, mereka tak akan dikenang. Jika kalah, sudah pasti hancur marwah. Jika hidup, hanya dianggap bak lampu redup. Jika mati, sekadar ditangisi oleh calon tak sampai satu hari”. Memang begitulah realitanya, diakui atau tidak. Saya pun kerap heran, kok bisa ada orang yang tingkat fanatismenya mencapai level na’udzubillahi min dzalik. Mereka makan apa sih sebenarnya?.

Orang-orang fanatik sungguh sangat menjengkelkan. Selain teriakan yang sangat keras, mereka juga provokatif. Masalah kecil, diperbesar; sesuatu yang sebenarnya tak salah, dinarasikan sebagai perkara yang sarat kekeliruan. Tujuannya, ya.....masih sama, demi calonnya. Jadi, dengan kata lain, mereka menumbalkan kedamaian masyarakat demi senyum individu yang haus kekuasaan. Hah! Capek dengan orang-orang sejenis ini. Memiliki kefanatikan terhadap seorang calon pejabat itu sah-sah saja, tidak dikategorikan sebagai dosa kok. Hanya saja, kefanatikan tersebut jangan diseret-seret ke tengah tatanan sosial masyarakat yang sudah terjalin apik.

Dua perkara yang telah disebutkan di atas (hoaks politik dan fanatisme) telah berhasil memecah-belah masyarakat. Tampak jelas masyarakat terkotak-kotak, antarkubu saling membenci (tak peduli meski di kubu lawan terdapat anggota keluarga). Ironis, bukan!?. Keluarga yang normalnya menjadi tempat berbagi dan bercerita, malah terlihat sebagai musuh di depan mata. Sebenarnya siapa yang kita bela dan untuk apa kita membelanya?. Andai pun calon yang kita dukung menang, apakah keadaan kita akan berubah signifikan? YNTKTS.

Sebagai masyarakat yang sudah punya smartphone (dan tentu saja sudah melek digital), kita harusnya tak lagi terkurung dalam drama politik tahunan seperti ini. Masih banyak hal lain yang bisa kita lakukan ketimbang meladeni atau ikut-ikutan rombongan orang-orang fanatik tadi. Apa tidak capek setiap hari memperdebatkan siapa calon yang terbaik?. Seusai pemilu, para calon tersebut sudah tak lagi peduli dengan siapa yang menang dan siapa yang kalah. Mereka akan kembali ngopi bersama, ngobrol soal UU baru dan uang investor asing yang menggiurkan. Sementara itu di sisi lain, kita tetap harus jungkir balik sendiri-sendiri untuk menyambung hidup. Lagi-lagi, ironis!.

Post a Comment

0 Comments