Ticker

6/recent/ticker-posts

Tak Berhenti Berpuasa

 

gontornews.com

Kriiinggg... Kriiinggg... Kriiinggg... Suara alarm dari HP terdengar begitu nyaring. Arif berusaha membuka mata, melihat jam. Saat perhatiannya tertuju pada layar HP, kesadarannya langsung kembali sepenuhnya. Arif baru menyadari bahwa alarm barusan adalah alarm terakhir yang berbunyi untuk membangunkannya sahur. Ia bergegas bangun dari tempat tidur, membasuh muka, lalu mengambil piring.

 

Ketika membuka tudung saji, Arif kembali terkejut sebab ia baru ingat jika stok nasi sudah habis semalam. Ia menggebrak meja, mengeluh, mengutuk, tak tahu harus menyalahkan siapa lagi selain dirinya sendiri. Saat kembali menuju kamar, ia teringat bahwa masih ada satu bungkus mie instant yang belum dimasak. Arif pun memutar langkahnya, mencari sebungkus mie instant dan akhirnya bertemu dengannya.

 

Ini adalah hari kelima Arif berpuasa. Sama dengan empat hari sebelumnya, selepas shubuh Arif kembali merebahkan badannya. Adzan dzuhur adalah alarm yang selalu membangunkannya di tengah hari. Ia bangun, mandi, sholat dzuhur, maraton film hingga jam 4. Begitulah rutinitasnya selama lima hari ini. Di malam harinya, selepas sholat isya’ ia menghabiskan waktu untuk bermain game sampai jam benar-benar telah menampakkan angka 00.00.

 

Dua hari berikutnya, kegiatan Arif tetap sama. Tidak ada produktiftas, pun demikian dengan kualitas diri. Saat hari ketujuh ia berpuasa, malam harinya ia mengantuk hebat. Hal ini tak biasanya ia rasakan, tapi Arif tak mampu lagi menahannya. Akhirnya, ia pun meletakkan HP lantas memejamkan matanya. Dalam hati sebenarnya ia masih heran kenapa tiba-tiba sangat mengantuk, padahal rutinitasnya sama dengan sebelumnya. Karena rasa kantuk yang lebih hebat daripada rasa penasarannya, Arif pun akhirnya terlelap.

 

Kesadarannya mulai kembali, Arif masih menerka-nerka ia berada di mana sekarang. Dia terus menyusuri jalanan, mencari keberadaan petunjuk. Rasa dahaga mulai menghampiri Arif, beruntung dalam waktu tersebut Arif juga melihat danau. Tanpa pikir panjang Arif pun langsung menghampiri danau tersebut. Airnya begitu jernih, saking jernihnya Arif bahkan belum pernah melihat yang sejernih itu. “Nampaknya air ini aman untuk diminum. Arggh... Sudahlah! Aku suda tak tahan lagi dengan dahaga ini”.

 

Air danau itu begitu segar, lebih segar dari semua air mineral kemasan yang pernah Arif rasakan. Arif pun langsung meminumnya berkali-kali, ia juga membasuh mukanya dengan air danau itu. Tiba-tiba terjadi hal yang janggal, Arif keheranan karena mendadak melihat kehidupan manusia dalam danau tersebut. Arif ingin melihatnya lebih dekat, tapi nampaknya kehidupan manusia tersebut berada di dasar danau. 

 

Belum juga ia menemukan solusi dari kebingungannya tersebut, hal yang janggal terjadi kembali. Bahkan, yang kali ini membuat jantung Arif berdetak di atas normal.  Arif terseret pusaran air, ia berteriak minta tolong tapi hasilnya nihil. Akhirnya, Arif kehilangan kesadarannya. Saat kesadarannya mulai kembali, Arif bertambah bingung dengan apa yang terjadi. Sangat jelas ia saat ini sedang berada di dalam air, tapi ia bisa bernapas.

 

Kebingungannya bertambah kala terdengar suara yang seolah berbicara dengannya.

 

“Akhirnya kau datang juga anak muda.”

 

Arif mencari-cari dari mana suara itu berasal. Ia memutar badannya 360 derajat, tapi tak juga menemukan sumber suara. Saat ia kembali menghadap seperti semula, di depannya nampak bayang-bayang manusia yang sangat samar karena tertutup air. Bayang-bayang itu seperti menuju ke arahnya. Bayangan itu lantas menerobos air bak menerobos sebuah tirai. Tampak seorang lelaki berusia sekitar 60-an tahun.

 

“Aku sudah menunggumu sejak kemarin. Ke mana saja kau?”.

 

Arif masih membeku, tak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Dia dan lelaki tua itu yang tak basah dalam air, bahkan bisa saling berbicara seperti biasa layaknya di darat; dia yang dikenali juga ditunggu oleh lelaki tua itu. “Apa yang sebenarnya terjadi? Di mana aku sekarang? Siapa lelaki tua ini?”. Pertanyaan demi pertanyaan mulai mendatangi pikiran Arif. “Jangan bingung, anak muda!”, ucapan lelaki tua itu mengembalikan kesadaran Arif semula. “Aku tahu kau punya banyak pertanyaan, tapi aku tak bisa menjawab semuanya sekarang. Waktuku tak banyak, aku harus menyampaikan sesuatu padamu”.

 

Arif memfokuskan perhatiannya pada lelaki itu. Bersiap dengan apa yang hendak disampaikan olehnya. 

 

“Dengarkan baik-baik, anak muda! Hentikan aktivitas puasamu!”.

 

Pesan tersebut membuat Arif begitu terkejut. Namun, tiba-tiba ia terseret oleh ombak yang besar. Adrenalinnya terpacu begitu kencang hingga membuat dirinya terbangun dari tidurnya. Arif mencoba mengatur napasnya yang tak beraturan. Ia mecari HP, melihat jam. Belum juga ia tahu jam menunjukkan pukul berapa, terdengar lantunan azan shubuh saling bersahutan. Ia lantas mengumpat, menyesal sebab tak bisa makan sahur. Di sisi lain dia masih memikirkan mimpinya barusan.

 

Arif kemudian menuju dapur, mengambil gelas, lalu termenung dan bimbang.

 

“Mimpi tadi nampaknya menyiratkan sebuah pesan. Haruskah aku membatalkan niat awalku?. Tapi aku masih ragu, benarkah mimpi itu berisi pesan? Atau jangan-jangan itu hanya akal-akalan setan supaya yang mengelabuiku melalui mimpi supaya aku berhenti berpuasa?”.

 

Arif pun mengembalikan gelas yang telah diambilnya. Ia kembali melanjutkan puasanya. Karena tadi malam tak sempat sahur, Arif pun memutuskan untuk mengisi hari itu dengan tidur, tidur, dan tidur hingga terdengar kumandang azan maghrib. 

 

Saat berbuka, Arif makan begitu banyak. Saking banyaknya, ia merasa tak sanggup untuk berdiri. Akibatnya ia melaksanakan shalat maghrib di penghujung waktu. Selepas shalat Arif masih memikirkan mimpinya semalam. Ia bertanya pada diri sendiri apa sebenarnya maksud mimpi tersebut. Waktu telah begitu larut, tapi Arif tak menemukan jawaban apa-apa. Ia memutuskan untuk tidur dan kembali berniat puasa untuk esok hari. Tanpa disangka ternyata Arif mengalami mimpi yang serupa dengan sebelumnya. Ia kembali diperingatkan untuk tidak melanjutkan puasanya.

 

Arif terbangun, kepalanya basah kuyup oleh keringat. Arif mencoba mengendalikan napasnya yang tersengal-sengal. Azan Shubuh lantas menggema, Arif keluar dari tempat tidurnya. Ia mengambil gelas untuk minum, kebimbangan kembali menghampirinya. “Haruskah aku tak berpuasa hari ini?”. Pikiran Arif terus berputar, hingga akhirnya ia kembali memutuskan untuk tetap berpuasa.

 

Apa yang terjadi kemarin, terulang lagi hari ini. Arif kembali mendapat mimpi yang sama, tapi kali ini Arif sempat bertanya terlebih dahulu kepada orang yang hendak memberinya pesan.

 

“Siapa sebenarnya dirimu? Dan kenapa kau melarangku untuk meneruskan ibadah puasaku?”.

 

“Anak muda, esok pergilah ke masjid untuk mengikuti pengajian! Waktuku tak banyak, selamat tinggal!”.

 

Orang tua itu menghilang seketika, meninggalkan Arif yang sangat kebingungan. Saat terbangun Arif kembali ragu untuk berpuasa atau tidak. Namun, ia tetap memutuskan untuk berpuasa.

 

Selepas Maghrib Arif memenuhi permintaan orang tua dalam mimpinya semalam. Saat sampai di masjid, Arif sangat terkejut karena yang mengisi pengajian adalah orang yang sama dengan yang ada dalam mimpinya. Arif bertanya-tanya, benarkah apa yang ia lihat sekarang bukan sebuah mimpi?. Arif berupaya menyembunyikan diri, ia memilih tempat yang sekiranya tak bisa dilihat oleh orang tua tersebut.

 

Saat pengajian telah berjalan setengah jam, Arif mulai bosan. Ia mengambil HP dari sakunya. Namun, entah mengapa tiba-tiba Arif terdiam menyimak apa yang disampaikan orang tua tersebut. Arif mendengar dengan jelas orang tua tersebut membacakan sebuah hadis yang melarang untuk berpuasa terus-menerus. Arif terdiam sejenak, mencerna apa yang barusan ia dengar. “Jadi, selama ini aku salah?”. Arif masih tak percaya dengan kejadian saat itu. Sepulang dari pengajian, Arif masih tak berhenti memikirkan apa yang barusan didengarnya. Namun, ia begitu lelah untuk berpikir terus-terusan. Arif pun memilih untuk tidur, dan saat itu ia belum memutuskan untuk berhenti berpuasa atau tidak.

Post a Comment

0 Comments