Ticker

6/recent/ticker-posts

Dampak Negatif Menjadi "People Pleaser" Menurut Fahruddin Faiz

 

Unsplash.com

Selama berkecimpung dalam realitas sosial, kita pasti bertemu dengan orang-orang yang memiliki karakter berlainan. Ada yang selalu bercanda, ada yang ketika bicara tanpa basa-basi, ada yang bermuka banyak, ada yang selalu ingin dipandang sebagai pemegang kekuasaan, ada juga yang selalu melontarkan wacana 3 periode, dan masih banyak lagi. Nah, di antara sekian banyak karakter yang ada, satu yang cukup sering dibicarakan adalah “people pleaser”. Melansir kompas.com, people pleaser menurut Jennyfer, M.Psi (seorang psikolog klinis dewasa dan remaja) adalah orang yang cenderung memprioritaskan orang lain, bahkan dalam situasi di mana orang tersebut justru mendapat kerugian. Lebih lanjut, Jennyfer menjelaskan bahwa setiap orang―tanpa memandang kategori usia―memiliki potensi untuk menjadi people pleaser.

Perlu dicatat bahwa individu dapat menjadi people pleaser bukan tidak ada penyebabnya. Salah satu penyebab yang cukup besar adalah mental inferioritas akibat sistem sosial yang sulit dihindari. Contohnya, saat kita mempunyai teman akrab yang tingkat ekonominya lebih tinggi dari kita. Dalam banyak momen, teman kita tersebut kerap membantu/memberi kita sesuatu. Mulai dari membelikan makanan hingga memberi tumpangan. Sementara itu, kita merasa bahwa kita belum bisa mengimbangi kadar pemberian teman kita tersebut. Akibat hal ini, kita pun berpikir bahwa kita mesti menyenangkan teman kita tersebut, jangan sampai membuatnya kecewa. Dari sinilah muncul bibit people pleaser pada diri kita.

Sebenarnya, menjadi people pleaser ada nilai positifnya yakni membuat kita belajar tentang urgensi mengikis ego. Ini jelas lebih baik daripada menjadi pribadi yang seenaknya sendiri, berdiri di atas pundak orang lain demi meraih kepuasan diri sendiri yang tak ada habisnya. Namun, tetap saja, menjadi people pleaser mempunyai dampak negatif yang cukup banyak. Berikut perinciannya sebagaimana dijelaskan oleh Dr. Fahruddin Faiz.

1.      Lelah Lahir dan Batin

Pernah dengar kisah tentang Luqman al-Hakim dan anaknya beserta seekor keledai?. Dalam kisah tersebut, setiap kali mereka berpapasan dengan orang di jalan, apa yang mereka lakukan selalu dikritik dan dinilai salah. Tampaknya kita semua pernah mengalami hal yang serupa. Bergerak sedikit saja, selalu ada orang yang tidak sreg. Nah, seandainya kita selalu menuruti komentar tiap orang, tentu kita akan merasa sangat lelah. Pasalnya, antara satu orang dengan yang lainnya mempunyai komentar yang berbeda. Saat kita menuruti keinginan si A, tiba-tiba si B nyinyir dan kita pun berupaya menjadi seperti yang diinginkan si B. Perkara semacam ini―bila terus kita turuti―tak akan ada habisnya. Sementara itu, yang kita dapat hanya lelah, lelah, dan lelah.

 

2.      Self-hatred

Definisi sederhana dari self-hatred adalah rasa benci terhadap diri sendiri. Laman guesehat.com menjelaskan bahwa self-hatred merupakan perasaan yang memicu diri kita berpikir bahwa kita tidak cukup baik dalam banyak hal. Alasan fundamental mengapa self-hatred bisa timbul jika kita menjadi people pleaser adalah kita kerap meninggalkan diri kita sendiri. Misalnya begini, kita tidak bisa menolak ajakan teman kita untuk ngopi, padahal esok harinya tugas kita mesti dikumpulkan. Saat tugas kita tidak selesai, kita pun akan membenci diri kita sendiri lantaran tadi malam tidak menolak ajakan ngopi dari teman kita. Kawan! Di luar sana sudah ada beberapa orang yang tidak suka dengan kita, mestinya kita tidak ikut-ikutan juga. Diri kita juga layak dicintai, setidaknya oleh diri sendiri.

 

3.      Merasa Dimanfaatkan

Menurut Dr. Fahruddin Faiz, apabila kita terus saja berusaha menyenangkan orang lain dan mengorbankan kesenangan kita sendiri, akan lahir mental “merasa dimanfaatkan”. Bahkan, tak menutup kemungkinan muncul kalimat-kalimat seperti, “Ternyata aku hanya alat!”; “Apakah aku berhak bahagia!?”; “Apakah Tuhan lupa denganku!?”. Kalimat-kalimat semacam itu menjadi indikasi bahwa kita hidup di bawah kehendak dan kesenangan orang lain (yang belum tentu peduli dengan diri kita).

 

4.      Tidak Memperbaiki Situasi dan/atau Mengecewakan Pihak Lain

Melakukan sesuatu demi kepuasan orang lain tidak akan memperbaiki situasi. Bahkan, karena kita menghilangkan orisinalitas diri kita, berpura-pura sebagai individu yang diinginkan orang lain, hal itu berpotensi menjadi akar kekecewaan. Oleh karena itu, akan lebih baik jika kita melepas topeng people pleaser dan menunjukkan diri kita apa adanya. Memang cukup sulit, tapi kita perlu mencobanya.

 

Tak ada salahnya kalau kita ingin membantu/membalas kebaikan orang lain. Hanya saja, kita perlu tahu batasnya. Terus-terusan berkorban demi kepuasan orang lain tanpa memikirkan diri sendiri tentu tak dapat dibenarkan. Ya kalau orang lain itu peduli dengan kita sih, tak menjadi masalah yang besar-besar amat. Tapi jika yang terjadi sebaliknya, demi apa kita melakukan semuanya!?. Di era yang serba settingan ini kita harus pandai-pandai memilah, mana yang memang punya nurani dan mana yang pribadinya seperti babi.

Pertanyaannya sekarang, apa yang dapat dilakukan supaya kita terbebas dari belenggu sifat people pleaser?. Setidaknya ada 4 hal, sebagaimana dikutip dari situs alodokter.com yakni.

a.       Bersikap lebih tegas terhadap diri sendiri maupun orang lain.

b.      Mendahulukan pikiran sebelum mengambil tindakan untuk (kepuasan) orang lain.

c.       Bila memang tak berbuat salah, tak perlu minta maaf.

d.      Jangan lupa untuk memprioritaskan kebahagiaan diri sendiri.

Sebagai akhiran, ada satu hal yang selalu membuat saya menggelengkan kepala, yaitu beberapa orang yang menuduh kita egois hanya karena melihat kita beberapa kali melakukan sesuatu untuk kebahagiaan diri sendiri. Padahal, manusia tak selamanya―harus menjadi―makhluk sosial. Ada kalanya manusia―perlu―menjadi makhluk individual.

Post a Comment

0 Comments