![]() |
| Unsplash.com |
Idealisme bagi tiap individu adalah keharusan. Tanpa idealisme, kita tak akan paham apa yang kita perjuangkan dalam hidup. Idealisme sendiri muncul karena banyak faktor, mulai dari keluarga, pendidikan, teman, hingga tontonan. Hal ini mengingatkan saya pada salah satu penggalan nadham Alala yang terjemahnya kurang-lebih seperti ini, “Jika ada teman yang perilakunya buruk, segera jauhilah!. Adapun bila ada teman yang perilakunya baik, maka segeralah menjadi temannya!”. Saya rasa makna penggalan nadham ini sangat luas. Ia tak hanya bicara “teman” dalam konteks individu semata, melainkan juga mencakup komunitas/organisasi, lingkungan tempat tinggal, pasangan, bahkan sosok idola.
Kita tahu bahwa heterogenitas adalah sebuah keniscayaan. Hal ini berlaku pula dalam konteks idealisme tiap individu. Bukan perkara mudah menemukan orang dengan idealisme yang sama dengan kita. Jika ada yang bilang bahwa ada satu kelompok/komunitas/organisasi yang anggotanya memiliki idealisme yang sama, rasanya ia tak bisa secepat itu dipercaya. Dalam analisis singkat saya, masing-masing anggota tersebut memang―berupaya―menampilkan idealisme yang sama. Namun, tujuan akhirnya tetap idealisme masing-masing.
Persinggungan antara idealisme yang berbeda tentu akan menimbulkan dikotomi. Tapi, tunggu dulu! Apakah dikotomi idealisme itu nyata terjadi?. Tampaknya, tidak demikian. Dikotomi idealisme, dalam pengamatan pendek saya, justru sekadar kulit luar semata. Saya pernah menjadi saksi kejadian semacam ini. Satu hari. Ada sebuah “proyek” di desa saya. Dalam pelaksanaannya, terjadi perebutan antara 2 kubu; kubu orang-orangnya kades dengan kubu warga biasa (yang tidak memiliki kedekatan khusus dengan kades).
Informasi tentang “proyek” tersebut ternyata diketahui lebih dulu oleh kubu warga biasa. Akhirnya, “proyek” tersebut pun dikerjakan oleh kubu warga biasa. Kelanjutan kisahnya sudah bisa ditebak. Ya! “Proyek” itu berjalan dengan dihantui hambatan. Dimulai dengan pertanyaan kades kepada kubu warga biasa tentang bagaimana proses perekrutan tim yang mengerjakan “proyek” tersebut, hingga menjalar pada permintaan-permintaan kades yang―bila ditelaah lebih dalam―rasanya tidak diperlukan.
Kades pernah mengatakan, “Jangan sampai, yang salah sebenarnya tim yang mengerjakan “proyek” ini, tapi yang disalahkan justru saya selaku kades!”. Kubu warga biasa merespons pernyataan kades yang terkesan enggan bertanggung jawab dan mengambinghitamkan mereka itu. Menurut mereka, pernyataan kades tersebut adalah representasi rasa kesalnya lantaran “proyek” tersebut bukan digarap oleh orang-orangnya. Lebih lanjut, kubu warga biasa menerangkan bahwa beberapa tahun yang lalu pernah ada “proyek” yang serupa. Pihak yang mengerjakan adalah orang-orangnya kades.
Namun, ternyata kerjaan mereka (orang-orangnya kades) lebih dari kata ngawur. Hasilnya tak jelas dan akhirnya justru menambah PR pada “proyek” di tahun-tahun berikutnya. Kubu warga biasa merasa miris dibuatnya. Hal ini mendorong mereka untuk mencari celah, bagaimana supaya mereka dapat lebih dulu menerima informasi tentang “proyek-proyek” semacam itu. Risikonya, yah…..seperti yang telah disebut di atas, kades―seolah―selalu berupaya mengambinghitamkan kubu warga biasa apabila sebuah “proyek” dikerjakan oleh mereka.
Realita di atas membuka mata saya sedikit lebih lebar. Kontradiksi yang terjadi antara kedua kubu di atas adalah kontradiksi kepentingan pribadi. Baik kubu kades (bersama orang-orangnya) maupun kubu warga biasa, sebenarnya, sama-sama menginginkan uang dari “proyek” yang mereka perebutkan itu. Kubu warga biasa ingin supaya “proyek” tersebut―setidaknya―dikerjakan lebih rapi sehingga hasilnya tidak melenceng jauh dari ekspektasi. Sementara itu, kubu orang-orangnya kades merasa bahwa mereka lebih punya otoritas untuk mengerjakan “proyek” tersebut ketimbang kubu warga biasa.
Konteks pembahasan ini bisa ditarik lebih luas
cakupannya, contohnya dalam kontestasi perebutan kursi presiden di tahun depan.
Beberapa partai membentuk koalisi, ada juga yang keluar, ada pula yang
menjadikan musuh sebagai sekutu. Adapun para bacapres telah menekan tombol
start dalam perlombaan menebar janji-janji (yang biasanya akan tetap berupa
janji). Tentu yang mereka lakukan demi kursi jabatan perhatian rakyat
tak hanya itu. Jika tabir media massa dibuka, kita akan menyaksikan pertarungan
para buzzerRp yang sangat nggilani lantaran mereka saling
melempar fitnah dan caci-maki.
Lagi-lagi saya tersadar. Idealisme yang mereka
perjuangkan, yang setiap hari mereka teriakkan, adalah sesuatu yang fana.
Esensi dari semua itu tetap kepentingan pribadi. Saya tidak yakin tujuan
seseorang nyapres (atau nyaleg) itu untuk melayani rakyat. Saya juga tidak
yakin partai-partai yang membentuk koalisi itu punya visi yang sama. Sayangnya,
meski sebagian dari kita telah mengetahui fakta ini, sebagian lainnya justru
punya kefanatikan yang tak dapat dibantah terhadap idealisme kepentingan
golongan tertentu. Yah…..pada akhirnya dikotomi kepentingan pribadi ini akan
terus bergulir. Pemenangnya siapa? Tentu saja, mereka yang punya
duit―sebagaimana telah dikatakan oleh Bayem Sore sang filsuf gondrong.

0 Comments