Ticker

6/recent/ticker-posts

“Idamanmu”: Bukannya Jadi Pengayom Masyarakat, Malah Jadi Musuh Masyarakat

 

Unsplash.com

Berseragam coklat, gagah, tak lupa menyapa perempuan-perempuan incarannya dengan “halo, dek!”; sungguh! memang sangat pantas menyandang gelar “idamanmu”. Saya kurang tahu pasti bagaimana genealogi kata “idamanmu” bisa dilekatkan pada mereka. Namun, hingga saat ini—sependek yang saya lihat—postingan yang menampilkan polisi muda, kolom komentarnya masih penuh dengan puji-pujian yang (sebenarnya) tak masuk akal. Artinya, beliau-beliau masih menjadi primadona di kalangan perempuan hingga sekarang. Yah…..ini semua terlepas dari apakah akun-akun yang memenuhi kolom komentar itu memang aku riil atau justru akun buzzer yang mereka sewa.

Sekarang mari kita bicara fakta lainnya soal mereka. Kasus pembunuhan berencana oleh Ferdy Sambo (dan komplotannya), bagaimana episode finalnya?. Ya! Diskon hukuman besar-besaran dikucurkan deras kepada para pelaku. Berikutnya, tragedy Kanjuruhan yang menewaskan 135 orang, apakah hukuman yang (hendak) diterima para terdakwa seimbang dengan buah dari kejahatan mereka?. Oh! Tentu saja tidak. Lalu, kasus keterlibatan Teddy Minahasa dalam peredaran narkoba. Vonisnya sih penjara seumur hidup, tapi jika di kemudian hari ada diskon dadakan, siapa yang tahu!?.

Semua yang telah disebutkan di atas adalah borok besar yang telah berhasil memikat perhatian publik. Jangan lupa juga, instansi berseragam coklat ini memiliki banyak sekali borok kecil—yang tentu saja telah kita ketahui bersama. Mulai dari “pemalakan” di tengah jalan, korban begal yang malah dijadikan tersangka, laporan masyarakat yang tetap berupa laporan (bukan tindak lanjut), hingga perkara merokok sambil bersepeda motor (sebagaimana tampak pada video yang beredar beberapa hari kemarin).

Jika melihat seluruh fakta tersebut, juga membaca komentar sebagian besar netizen, tentu konklusi yang saya dapat adalah tingkat kepercayaan masyarakat terhadap mereka cukup rendah. Namun, anehnya, pemuda-pemuda di instansi berseragam coklat ini masih digandrungi oleh banyak perempuan. “Para perempuan ini waras nggak sih?”. Jawabannya, “Ya! Mereka masih waras”. Mengapa? Sebab, para perempuan itu menggilai pemuda berseragam coklat lantaran faktor yang memang dapat melayani nafsu mereka. Faktor-faktor itu meliputi ketampanan, kegagahan, dan tak lupa pula uang.

Tapi, tunggu dulu! Ada satu hal yang perlu menjadi catatan yakni, “Apakah mereka sudah berpikir jangka panjang?”. Begini, kita telah mafhum bahwa “idamanmu” kurang dipercaya oleh sebagian masyarakat. Andai kata para perempuan tadi berhasil menjadi suami dari “idamanmu”, apakah mereka telah siap dengan konsekuensinya?. Ambil contoh, di satu waktu ada rentetan kasus yang mengotori (eh, bukannya memang sudah kotor, ya!?) institusi “idamanmu” ini. Sebagai istri, apakah para perempuan tadi sudah siap dengan serangan netizen yang bertubi-tubi?. Entahlah! Barangkali yang ada di pikiran mereka hanya ketampanan dan uang dari “idamanmu”.

Kembali fokus ke “idamanmu”. Ada satu sindiran—atau mungkin pembacaan terhadap realitas—dari Gus Dur yang terus digaungkan hingga kini. Sindiran itu tentang hanya ada 3 polisi jujur di Indonesia. Puncak komedinya, Ismail Ahmad (warga Kepulauan Sula, Maluku Utara) pernah diminta—atau mungkin lebih tepatnya dipaksa—oleh Polres Sula untuk melakukan klarifikasi dan minta maaf lantaran menulis ulang sindiran Gus Dur tersebut di Facebook. “Lah!? Bukannya berbenah, malah tambah bikin ulah”.

Dalam UU No. 2 Tahun 2002 tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia dipaparkan, “Kepolisian Negara Republik Indonesia bertujuan untuk mewujudkan keamanan dalam negeri yang meliputi terpeliharanya keamanan dan ketertiban masyarakat, tertib dan tegaknya hukum, terselenggaranya perlindungan, pengayoman, dan pelayanan kepada masyarakat, serta terbinanya ketenteraman masyarakat dengan menjunjung tinggi hak asasi manusia”. Nyatanya, teks tersebut, ya, tetap berupa teks saja. Tidak ada implementasi darinya. Jika pun ada yang mengimplementasikannya, itu terlampau sedikit bila dibandingkan yang “melanggarnya”.

Hingga saat ini, “idamanmu” berseragam coklat itu masih belum juga membaik namanya. Buktinya, lagi-lagi, terlihat dari jamaknya netizen yang menukil ulang sindiran Gus Dur tadi. Apabila ada pihak—entah itu media massa maupun lembaga survei—yang mempublikasikan bahwa tingkat kepercayaan masyarakat terhadap polri cukup tinggi, sejujurnya saya sangat skeptis (jika enggan menyebut “sama sekali tak percaya”). Memangnya faktor apa yang menaikkan kepercayaan masyarakat terhadap mereka? Lha wong pelaku kasus pembunuhan saja dapat diskon hukuman.

“Idamanmu”, apakah masih layak julukan tersebut disematkan pada mereka?. Boleh saja mengidamkan pria abdi negara berseragam coklat, asalkan dia bukan sosok yang problematik (atau tidak tampak padanya benih pribadi problematik). Lalu, untuk pihak “idamanmu”, bila memang tugas Anda mengayomi masyarakat, ya.....harusnya mengayomi, bukan malah menjadi musuh masyarakat. Kalau memang mau menegakkan hukum, ya.....tegakkan dengan seadil-adilnya, bukan sekorup-korupnya. Sebenarnya, tanpa saya menulis begini, mereka sudah tahu bagaimana semestinya bekerja (secara profesional). Tapi.....ah, sudahlah! Saya sudah mengcapek dengan semua realita di atas.

Post a Comment

0 Comments