Ticker

6/recent/ticker-posts

Memetik Hikmah dari Kehadiran Proyek NOAH ‘Second Chance’

 

Instagram.com/noah_site

Hampir sama dengan tahun 2020, tahun 2021 juga terasa sangat singkat. Tahun 2020 banyak dihiasi kabar duka, mulai dari banyaknya orang yang di-PHK hingga lahan kuburan yang semakin hari semakin sempit saja. Sementara itu, di tahun 2021 kita lebih banyak melihat wajah Lord Luhut yang nggak pernah salah, entah itu di TV maupun di media sosial, entah itu dalam rangka membacakan keputusan soal PPKM maupun dalam rangka pelantikan jabatan baru beliau. Barangkali nggak sedikit yang merenungkan, apakah dua tahun belakangan terasa semembosankan itu?. Tampaknya nggak terlalu membosankan, sih! Pasalnya kita masih bisa menyaksikan lawakan dan atraksi para pejabat yang sangat menakjubkan itu.

Pada penghujung 2021, NOAH merilis proyek second chance. Proyek ini merupakan ‘pemolesan’ lagu-lagu lama Peterpan agar memiliki nuansa yang pas dengan era sekarang. Lantaran proyek ini saya merasa bahwa tahun 2021 nggak suram-suram amat. ‘Taman Langit’ menjadi album pertama yang dirilis pada Desember 2021. Bicara soal album ‘Taman Langit’, Ahmad Dhani pernah berkomentar bahwa lagu-lagu dalam album tersebut arahnya nggak jelas. Hal ini diceritakan sendiri oleh Ariel. Meski demikian, nyatanya cukup banyak juga yang suka dengan lagu-lagu dalam album ‘Taman Langit’.

Album versi second chance selanjutnya yang dirilis adalah ‘Bintang di Surga’. Seperti diketahui, album ini dahulu terjual lebih dari tiga juta kopi. Perilisan album ‘Bintang di Surga’ versi second chance terjadi pada Januari 2022. Berikutnya, album ‘Hari yang Cerah’ menyusul dirilis (masih di bulan Januari 2022). Bukan hanya memoles lagu, NOAH juga me-remake music video (MV). Dalam satu album, ada satu lagu yang MV-nya di-remake. Lagu ‘Yang Terdalam’ mewakili album Taman Langit, lagu ‘Bintang di Surga’ mewakili album Bintang di Surga, dan lgu ‘Menghapus Jejakmu’ mewakili album Hari yang Cerah.

Ketiga MV tersebut menggaet anak-anak muda sebagai talent utama, sementara personel NOAH berperan sebagai cameo. Hasilnya? Setiap MV berhasil menarik atensi publik. Responsnya bermacam-macam, mulai dari yang membandingkan dengan MV versi lama sampai dengan yang bikin parodi. Terlepas dari itu, saya rasa ada tiga hal yang bisa dipetik dari hadirnya MV NOAH versi second chance ini. Berikut rinciannya.

1.      Kekuatan Nostalgia

Setiap MV merupakan remake dari versi yang dulu. Dan, setiap MV yang di-upload berhasil menduduki trending #1 YouTube kategori musik. Saya rasa ini merupakan salah satu dampak dari nostalgia. Orang ingin mengenang masa-masa lampau yang dirasa indah, dan lagu menjadi satu alternatif terbaik untuk menuju ke masa-masa tersebut. Tampaknya setiap orang punya kenangan tersendiri bersama lagu-lagu Peterpan, khususnya yang MV-nya di-remake. Hal inilah yang mendorong mereka menonton MV NOAH versi second chance, bahkan rela berulang-ulang kali.

Oh, iya! Perlu dicatat juga bahwa kekuatan nostalgia ini cukup mampu mengimbangi kekuatan solidaritas ARMY. Ini mungkin memiliki makna bahwa zaman boleh berganti, tetapi kenangan akan selalu melekat dalam pikiran dan nurani. Mengenang masa lalu yang indah memang sangat mengasyikkan. Hal ini bisa menjadi sedikit hiburan di tengah semakin nggak jelasnya orang-orang di pemerintahan. Mungkin banyak orang mengucap terima kasih pada NOAH karena telah membangkitkan memori masa lalu melalui lagu dan MV-nya.

 

2.      Yang Lama Nggak Selamanya Basi

Sesuatu di masa lampau memang selalu diidentikkan dengan kuno atau basi. Ini menjadi indikasi bahwa sesuatu tersebut sudah usang dan nggak relevan lagi di zaman sekarang. Sudah waktunya dilupakan, ditinggalkan, atau dibuang. Namun, NOAH melalui proyek second chance-nya (juga didukung dengan MV) berhasil mematahkan hal tersebut. Nyatanya, lagu-lagu lama Peterpan yang dipoles ulang banyak diminati publik. Lagu-lagu tersebut ternyata belum juga basi meski zaman telah jauh bergeser.

Saya rasa kita bisa memetik pelajaran dari sini. Nggak selamanya sesuatu yang udah lama itu untuk dibuang. Ada kalanya ia dapat dipoles ulang sehingga bisa menyesuaikan zaman. Tapi.....jangan gunakan ini di setiap hal lho, ya!. Sebagai contoh, persoalan mantan. Ya masa kalian mau memoles ulang mantan kalian agar sesuai dengan perubahan zaman, sehingga kalian bisa membangun kembali hubungan!?. Kalo misal sama-sama nggak punya pasangan, sih, silakan jika memang berkenan!. Tapi kalo misal udah punya pasangan, ya otaknya agak digunakan sedikit, lah!. Ingat! Kehadiran ‘Layangan Putus’ berhasil membuka mata pemirsa (khususnya perempuan) terhadap modus laki-laki yang berselingkuh.

 

3.      Masa Depan Tidak Ditentukan oleh Virus

Kalimat tersebut sebenarnya berasal dari Dr. Indrawan Nugroho. Saya coba renungkan dan mencari buktinya. Hingga muncullah MV NOAH second chance yang selalu berhasil menduduki trending #1 YouTube kategori musik. Saya akhirnya percaya dengan kutipan Dr. Indrawan Nugroho tersebut. Ya! Masa depan kita nggak ditentukan oleh virus. Ada atau pun tidak virus tersebut, masa depan kita tetap kita sendiri yang menentukan. Virus adalah satu dari sekian banyak rintangan dalam perjalanan hidup kita. Jika kita terus bergerak dan berkarya, kemungkinan besar masa depan kita akan tampak cerah. Sebaliknya, bila kita terus-terusan misuh karena kehadiran virus tanpa melakukan hal lainnya, ya.....kita akan stagnan, tetep gitu-gitu aja, nggak ada perubahan sama sekali.

Kehadiran proyek second chance dari NOAH (khususnya MV-nya) menjadi bukti bahwa manusia tetap bisa berkarya meski dihantam badai virus yang seolah tak kunjung reda. Sepertinya kita patut belajar dari hal ini. Tugas kita adalah terus bekerja, belajar, dan berkarya. Sama halnya dengan kegigihan Sun Go Kong, “Walau halangan-rintangan semakin panjang membentang, tak jadi masalah dan tak ‘kan jadi beban pikiran”. Kita boleh saja misuh pada keberadaan virus atau misuh pada pejabat yang malah beratraksi di tengah pandemi. Akan tetapi, hal tersebut harus dibarengi upaya kita untuk selalu bergerak dan menghasilkan sesuatu yang berarti.

Tujuannya sebenarnya sederhana tapi sangat penting. Supaya kita berhasil dalam mencari kitab suci ke Barat masa depan kita nggak suram-suram amat. Biar kita punya kemajuan (meski sedikit) dibanding hari kemarin. “Waduh! Lama-lama kok saya jadi kayak para motivator gini, sih!?”. Dahlah! Pokoknya, saya rasa kita perlu sekali lagi mengucap terima kasih pada NOAH―juga orang-orang yang selalu berkarya dan menginspirasi―karena telah membuktikan bahwa kreativitas manusia nggak mati meski di tengah pandemi.

Post a Comment

0 Comments