![]() |
| Unsplash.com |
“Anak sekecil itu berkelahi dengan AdSense”, sebuah kalimat yang cukup mewakili Moana, bayi dari Ria Ricis. Sepakat atau tidak, nyatanya apa yang dilakukan Ria Ricis beberapa waktu yang lalu memiliki satu tujuan utama, menarik atensi netizen secara besar-besaran. Ria Ricis memang sudah memiliki penggemar setia dalam jumlah banyak. Namun, dengan ia melakukan hal ekstrem untuk Moana kemarin, orang-orang yang mulanya bodo amat dengan kontennya akan ikut tertarik menontonnya. Imbasnya jelas, pendapatan AdSense meningkat drastis.
Selain fakta di atas, fakta lain yang juga patut diketahui adalah Ria Ricis telah mempersiapkan segalanya sebelum memproduksi konten tersebut. Percaya atau tidak, begitulah adanya. Kita, selaku netizen biasa, hampir selalu menyiapkan beberapa hal (misalnya, filter jahat & caption puitis) untuk sekadar upload foto di Instagram. Apalagi Ria Ricis yang notabene petani AdSense, jelas apa yang disiapkannya lebih banyak dari kita. Nah, yang jadi problematika adalah kita tak menyadari akan hal tersebut. Sehingga, beberapa dari kita kerap meniru mentah-mentah terhadap apa yang dilakukan oleh para selebritis.
Oke! Sekarang kita masuk dalam fokus pembahasan terkait konten romantisisme. Bila diperhatikan, konten romantis memiliki pasar yang besar. Tidak peduli siapa yang membuatnya, konten romantis akan selalu diterima―malah cenderung disukai―oleh netizen remaja hingga dewasa awal. Oleh sebab itu, tak heran jika kita lebih terdorong untuk membuat konten romantis, alih-alih berlomba membuat konten yang “mencerdaskan kehidupan bangsa”. Memang benar, tak ada salahnya membuat konten romantis. Ia sekadar hiburan di tengah kehidupan yang runyam. Toh, konten romantis juga tak merugikan siapa pun. Tidak seperti hoax. Kendati demikian, rasanya kita perlu beberapa catatan terkait hal ini.
Disadari atau tidak, konten romantis memiliki pengaruh (dorongan) yang cukup kuat. Apalagi jika itu berkaitan dengan kehidupan rumah tangga. Efeknya adalah banyak anak muda yang menggebu ingin segera menikah. Nah, keinginan tersebut lantas dibela dengan beberapa dalil agama. Misalnya, “nikah muda untuk menghindari zina” atau “menikah adalah sunnah Nabi saw”. Dalilnya sih tak salah, yang salah adalah sikap kita mengambil dalil dengan tujuan memvalidasi keinginan diri sendiri. Padahal, mestinya sebuah dalil itu dipahami sesuai dengan konteks munculnya dalil tersebut. Pertanyaannya sekarang, apa dampak dari pengambilan dalil dalam situasi yang kurang tepat tersebut?.
Melansir kompas.com, pada tahun 2021 terdapat 59.709 kasus pernikahan dini di Indonesia. Angka ini masih terbilang tinggi bila dibandingkan tahun 2019, yakni 23.126. Mungkin beberapa dari kita belum menyadari bahwa banyaknya kasus pernikahan dini tersebut disebabkan―salah satunya―oleh ketidaktepatan momen pengambilan dalil di atas. Pernikahan dini sendiri dapat memiliki efek domino, mulai dari bertambahnya angka kemiskinan hingga peningkatan kasus stunting. Hal ini mungkin terjadi sebab mereka yang melakukan pernikahan dini umumnya belum memiliki fondasi perekonomian yang kuat, sehingga di tahap berikutnya kebutuhan gizi anak tidak tercukupi dengan baik.
Guna memitigasi hal termaktub, kita memerlukan satu perangkat yang disebut kritisisme―dalam hal ini kritisisme terhadap konten romantis. Mengapa demikian? Seperti yang telah dijelaskan di awal, sering kali kita menelan mentah-mentah apa yang terjadi di balik konten tersebut. kita selalu menempatkan diri sebagai penonton saja dan hampir tidak pernah berandai-andai sebagai pembuat konten. Jika pun kita membayangkan diri sebagai pembuat konten, kita hanya membayangkan popularitas dan uang yang bisa kita genggam. Yah.....memang sih hal itu tak keliru, tapi kalau dilakukan terus-terusan tentu bukan menjadi perkara yang benar pula.
Mulai hari ini kita patut menyadari bahwa apa yang ada di media sosial itu kebanyakan “fake”, hanya sebuah konten. Semua telah diatur sedemikian rupa oleh si pembuat konten sehingga terasa “menarik” di mata netizen. Jangan tertipu, jangan mudah terhasut. Kita perlu bertanya tentang bagaimana sebuah konten dibuat. Kita perlu banyak melihat behind the scene. Kita perlu banyak belajar dari orang-orang yang berusaha menyadarkan netizen bahwa kepalsuan memenuhi media sosial. Semua itu, saya rasa, akan membuat kita mengakui urgensi “membaca konteks”.
Mungkin apa yang saya tulis di atas terasa cukup sulit―jika tak mau disebut utopis. Pasalnya, akan selalu ada penggemar-penggemar fanatik yang mengultuskan idolanya. Apa saja tingkah sang idola, mereka tetap setia membenarkannya. Ini berlaku juga pada konten-konten romantis. Setajam apa pun ia dikritik, orang yang menggandrungi tidak akan berpaling darinya. Lagi-lagi harus kembali kita ingat bahwa segala yang berlebihan itu tidak baik. Begitu pula dengan mengonsumsi konten romantis. Yah.....romantis itu memang penting dalam sebuah hubungan. Namun, kita juga perlu menyadari bahwa ada banyak hal yang jauh lebih penting darinya, mulai dari tanggung jawab sebagai istri/suami hingga tanggung jawab sebagai orang tua.
Hari ini kita menjadi saksi bahwa konten romantis banyak diproduksi oleh remaja, bahkan anak-anak. Mereka mungkin mengira bahwa mereka telah cukup umur untuk hal itu (semua yang berbau romantis). Di sisi lain, mereka sama sekali belum menyadari betapa berat kehidupan saat dihadapkan pada ketidakstabilan ekonomi. Mereka juga belum mengerti apa itu nalar kritis. Lantas, bagaimana mereka mesti disadarkan?. Entahlah! Sejujurnya, saya tak tahu. Hal yang saya tahu adalah anak-anak (juga remaja awal) belajar dengan cara menduplikasi. Berdasar pada hal termaktub, barangkali yang bisa kita―selaku orang dewasa―lakukan adalah memberi contoh yang baik, bermanfaat, dan minim risiko.

0 Comments