Ticker

6/recent/ticker-posts

Jika Tuhan Dibunuh Manusia, Akankah Manusia Ditundukkan oleh AI?

 

Unsplash.com

Banyak dari kita mengenal Nietzsche lantaran pernyataannya yang kontroversial―atau mungkin malah membuat kita benci padanya. Pernyataan itu berbunyi, “Tuhan telah mati”. Apa yang dikatakan Nietzsche ini kemudian membuat ia disebut sebagai “Si Pembunuh Tuhan”. Jika dipahami secara harfiah, pernyataan Nietzsche tersebut memang cenderung ateistis. Namun, ada baiknya bila kita tidak gegabah mencap Nietzsche sebagai sosok yang menafikan keberadaan Tuhan hanya karena membaca satu pernyataannya tersebut. Setidaknya, sebelum menilai, kita harus pahami bahwa terdapat konteks yang melingkupi pernyataan dari “Si Pembunuh Tuhan” itu.

Melansir idntimes.com, Nietzsche memang merupakan sosok yang tidak percaya terhadap akhirat. Ia tidak setuju dengan gagasan tentang keberadaan dunia lain pasca-matinya manusia. Penolakannya ini bermaksud memosisikan manusia dalam taraf “manusia sempurna” dengan jalan mencintai kehidupan seutuhnya. Namun, perlu dicatat bahwa penolakan Nietzsche terhadap keberadaan akhirat ini tidak berkaitan langsung dengan pernyataannya tentang “kematian Tuhan”.

Masih dari apa yang tertera pada laman idntimes.com, kutipan Nietzsche tentang “Tuhan telah mati” sebenarnya tidak berorientasi teologis. Ia bukanlah penafian terhadap entitas tertinggi, Tuhan. Kutipan tersebut merupakan bentuk kritik terhadap pola perilaku masyarakat beragama kala itu. Nietzsche melihat bahwa para penganut Kristen di sekitarnya saat itu mempunyai sifat munafik. Mereka―ketika era modern dimulai―perlahan tidak memberikan tempat pada Tuhan. Fenomena ini kemudian ditulis oleh Nietzsche dalam karyanya yang berjudul The Gay Science melalui kalimat ini, “Tuhan telah mati. Tuhan tetap mati dan kitalah yang sudah membunuhnya”.

Lantas bagaimana dengan konteks era ini―kaitannya dengan Tuhan?. Banyak dari kita mungkin sudah mendengar kalimat Sudjiwo Tedjo ini, “Menghina Tuhan tidak harus sampai menginjak kitab suci-Nya, tidak harus sampai mempermainkan nama nabi-Nya. Besok khawatir tidak bisa makan saja, itu sudah menghina Tuhan”. Hampir semua dari kita sudah mafhum apa yang dimaksud oleh Mbah Tedjo dalam kalimatnya itu. “Tuhan sudah menjamin rezeki seluruh ciptaan-Nya”, begitu kurang-lebih yang coba disampaikan Mbah Tedjo.

Namun, perlu diingat, perkataan Mbah Tedjo di atas tidak dapat diterjemahkan secara harfiah. Walau Tuhan sudah menjamin rezeki masing-masing makhluk-Nya, bukan berarti kita bisa diam saja untuk menunggu rezeki datang. Saya rasa konsep dasar ini sudah sangat kita pahami. Sependek yang saya lihat di era ini, mayoritas manusia telah berkenan untuk berupaya semaksimal yang ia bisa. Sayangnya, di sisi lain, tak sedikit dari kita yang kadar kepasrahannya pada Tuhan hampir menyentuh titik 0.

Hal termaktub tentu tak lepas dari karakteristik manusia di era ini. Diterima atau tidak, kita adalah bagian dari manusia era ini yang cenderung rasionalis sekaligus mengesampingkan hal-hal mistis. Barangkali karakter seperti ini disebabkan―salah satunya―oleh perkembangan teknologi (khususnya teknologi informasi) yang sangat pesat. Dalam pandangan subjektif saya, perkembangan teknologi informasi tersebut telah membuat kita merasa tahu banyak hal. Akibatnya adalah perhatian kita terhadap perkara mistis―dalam hal ini kepasrahan pada Tuhan―jadi terkikis.

Fenomena di atas sekarang ditambah oleh kehadiran AI (Artificial Intelligence) yang berhasil membuat kita tercengang. Kehadiran AI nyatanya telah mereorientasi isi kepala kita tentang cara hidup di masa ini dan di masa yang akan datang. Banyak pekerjaan kita kian mudah selesai lantaran AI. Mulai dari mengerjakan soal Matematika hingga menggarap skripsi. Praktis dan sangat efisien. Kemampuan AI tak berhenti di situ. Sebagaimana yang kita lihat di media sosial belakangan ini, AI mampu merekonstruksi wajah para tokoh di masa lampau (contohnya para pejuang kemerdekaan dan Wali Sanga) dalam versi yang lebih nyata.

Namun, di balik semua kemampuan AI itu, terdapat sisi lain yang cukup mengkhawatirkan. Ya! Melihat AI yang mampu mengerjakan banyak pekerjaan manusia, kita tentu khawatir bila di masa depan nanti peran kita akan banyak tergeser oleh AI. Mari kita sedikit berimajinasi lebih jauh!. Bagaimana nanti bila AI semakin mendominasi kehidupan dan kita (manusia) akhirnya tunduk oleh AI?. Mungkin pertanyaan ini terdengar cukup “gila”, tapi coba kita gali lebih jauh.

Dalam film The Avengers: Age of Ultron diceritakan bahwa AI ingin memiliki tubuh sendiri dan hidup bebas. Ketika ia telah mendapatkannya, ia pun dapat menundukkan manusia dengan mudah. Saya kemudian di lain waktu menanyakan kemungkinan terjadinya hal tersebut pada ChatGPT. Menurutnya, peristiwa dalam film The Avengers: Age of Ultron tidak mungkin terjadi. “AI itu sebatas membantu memudahkan kehidupan manusia, tidak sampai menundukkan manusia”, begitu kira-kira kesimpulan jawaban yang saya dapat dari ChatGPT. Pertanyaannya sekarang, apakah jawaban ChatGPT tersebut mutlak benar dan dapat dipercaya?.

Saya rasa tidak sesederhana itu. Jika memang AI tidak akan menaklukkan manusia layaknya Ultron, tapi tetap saja ia akan (atau mungkin sudah) menundukkan manusia. Begini! Sama halnya dengan “manusia membunuh Tuhan” yang tidak dapat diterjemahkan secara harfiah, “AI menundukkan manusia” juga tak bisa ditafsirkan secara literal. Kita mungkin memang tidak melakukan aktivitas berlutut di depan AI, tapi pengaruh AI pada hidup kita sudah sangat besar.

Sebagai contoh, saat kita mendapatkan jawaban yang bersumber dari AI, kita cenderung mutlak mempercayainya. Hal ini saya rasa merupakan contoh nyata dari tunduknya manusia di hadapan AI. Memang benar, tak ada salahnya kita percaya pada jawaban dari AI, toh persentase kemungkinan AI menjawabnya secara objektif hampir menyentuh 100%. Namun, dapatkah kita membayangkan bagaimana peradaban manusia ketika benar-benar tergantung pada AI?. Ketergantungan yang berlebihan pada AI bisa jadi justru membuat manusia enggan mempelajari perkara-perkara fundamental. Dan, jika hal ini benar-benar terjadi, ia justru akan menjadi awal dari kemunduran intelektual manusia.

Post a Comment

0 Comments